Langsung ke konten utama

PERBEDAAN LAJU FOTOSINTESIS ANTARA DAUN MUDA DAN DAUN TUA TUMBUHAN NAM-NAM (Cynometra cauliflora)




LAPORAN GROUP PROJECT
FISIOLOGI TUMBUHAN DASAR

PERBEDAAN LAJU FOTOSINTESIS ANTARA DAUN MUDA DAN DAUN TUA TUMBUHAN NAM-NAM
(Cynometra cauliflora)


Guna Memenuhi Tugas Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar
Dosen  : Prof. Djukri
  Drs. Suyitno Al. MS.










Oleh :
1.      Hafidha Asni Akmalia            (08304241003)
2.      Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022)





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI SUBSIDI
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Fotosintesis berasal dari kata foton=cahaya dan sintesis=penyusunan, Fotosintesis adalah peristiwa penyusunan zat organik (gula) dari zat anorganik (air, karbondioksida) dengan bantuan energi cahaya. Fotosintesis merupakan suatu proses yang penting bagi kehidupan organisme di bumi.
Proses fotoseintesis tidak dapat berlangsung pada setiap sel, tetapi hanya pada sel yang mengandung pigmen fotosintesis. Pigmen fotosintesis merupakan suatu zat warna yang dapat menangkap gelombang cahaya tertentu yang dijadikan sumber energi bagi berlangsungnya fotosintesis. Pigmen fotosintesis yang dapat mengabsorbsi cahaya matahari dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu:
1.      Klorofil, tumbuhan yang berklorofil akan tampak berwarna hijau.
2.   Karotenoid, tumbuhan yang memiliki karotenoid akan tampak berwarna kuning, jingga atau merah.
3.      Fikobilin, terutama dimiliki oleh kloro bakteri dan ganggang merah.
Atas beberapa macam jenis pigmen fotosintesis ini kemudian dapat dicari perbedaan laju fotosintesis tumbuhan berdasarkan perbedaan pigmen fotosintesis yang terdapat pada sel-sel mesofil daun.
Pengamatan akan dilakukan pada daun Cynometra cauliflora dengan alasan daunnya berwarna merah saat muda dan berubah menjadi hijau saat tua. Daun Cynometra cauliflora mudah didapatkan di lingkungan kampus, terutama berdekatan dengan laboratorium, dengan tinggi pohon yang tidak terlalu tinggi sehingga mudah untuk menjangkau daunnya.
Laju fotosintesis dapat diukur menggunakan aparatus fotosintesis hasil modifikasi berdasarkan metode volumetrik sederhana. Laju dinyatakan dalam mm3 CO2/cm2/menit.


B.     Rumusan Masalah
1.    Apakah perbedaan jenis pigmen fotosintesis yang terdapat pada sel mesofil daun Cynometra cauliflora mempengaruhi laju fotosintesis?
2.    Apakah pada daun muda dan daun tua tumbuhan Cynometra cauliflora memiliki laju fotosintesis yang berbeda?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui laju fotosintesis berdasarkan jenis pigmen fotosintesis yang terdapat pada sel mesofil daun Cynometra cauliflora.
2.    Mengetahui perbedaan laju fotosintesis pada daun muda dan daun tua tumbuhan Cynometra cauliflora.

D.    Manfaat
Percobaan ini bermanfaat untuk mengetahui pengaruh jenis pigmen fotosintesis terhadap kecepatan fotosintesis tumbuhan Cynometra cauliflora dan perbedaan laju fotosintesis antara daun muda dan daun tua pada Cynometra cauliflora, serta dapat menjadi tinjauan bagi penelitian selanjutnya pada jenis tumbuhan yang lain.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Dasar Teori
1.      Fotosintesis
Fotosintesis merupakan aktifitas fisiologis yang khusus dilakukan oleh organisme fotosintetik, terutama kelompok tumbuhan. Fotosintesis dapat diartikan suatu proses penyusunan zat karbohidrat dengan cahaya sebagai energinya, foton = cahaya dan sintesis = penyusunan. (Suyitno, 2007)
Cahaya tampak (visible light) merupakan sumber energi yang digunakan tumbuhan untuk fotosintesis, di mana merupakan bagian spektrum energi radiasi. Teori kuantum menyatakan cahaya merambat dalam bentuk aliran partikel yang disebut foton. Energi yang terkandung dalam satu foton disebut satu kuantum. Energi yang terkandung dalam foton berbanding lurus dengan frekuensi dan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya. Reaksi cahaya dalam fotosintesis merupakan akibat langsung penyerapan foton oleh molekul-molekul pigmen klorofil.
Tidak seluruh foton mempunyai tingkat energi yang cocok untuk menggiatkan pigmen daun. Foton tidak memiliki cukup energi di atas 760 nm dan di bawah 390 nm foton memiliki terlalu banyak energi, menyebabkan ionisasi dan kerusakan pigmen. Sehingga foton yang memiliki tingkat energi yang cocok untuk fotosintesis memiliki panjang gelombang antara 390 – 760 nm yaitu cahaya campak. Penggiatan pigmen merupakan akibat langsung dari interaksi antara foton dan pigmen.
Secara umum fotosintesis terjadi dalam dua tahapan yaitu reaksi terang (light reaction) dan reaksi gelap (dark reaction). Reaksi terang merupakan tahapan yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya matahari. Reaksi ini melibatkan Fotosistem I dan II yang bekerja sama menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan ATP dan NADPH sebagai produk reaksi terang.
Sedangkan reaksi gelap merupakan tahapan lanjutan dari reaksi terang, di mana terjadi fiksasi karbondioksida untuk direduksi menjadi karbohidrat pada siklus Calvin. Energi untuk mereduksi berasal dari NADPH hasil reaksi terang.
Dari reaksi fotosintesis, dapat diketahui syarat-syarat agar berlangsung proses fotosintesis, yaitu sebagai berikut :
a.       Karbon dioksida (CO2), diambil oleh tumbuhan dari udara bebas melalui stomata (mulut daun).
b.      Air, diambil dari dalam tanah oleh akar dan diangkut ke daun melalui pembuluh kayu (xilem).
c.       Cahaya matahari.
d.      Klorofil (zat hijau daun), sebagai penerima energi dari cahaya matahari untuk melangsungkan proses fotosintesis.
Proses fotosintesis begitu kompleks karena banyak faktor yang berpengaruh, baik fakor internal maupun eksternal. Faktor eksternal sebagai contoh adalah struktur daun, struktur perakaran, kondisi cahaya, kondisi air tanah, kondisi atmosfer, dan sebagainya. Faktor internal di antaranya dominansi jumlah klorofil yang terdapat pada daun, ketersediaan enzim yang berperan dalam tahap-tahap fotosintesis, dan sebagainya. (Suyitno,2007)
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis adalah sebagai berikut.
a.       Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di udara, semakin tinggi konsentrasi CO2 di udara, maka laju fotosintesis semakin meningkat.
b.      Klorofil, semakin banyak jumlah klorofil dalam daun maka proses fotosintesis berlangsung semakin cepat. Pembentukan klorofil memerlukan cahaya matahari.
c.       Cahaya, intensitas cahaya yang cukup diperlukan agar fotosintesis berlangsung dengan efisien.
d.      Air, ketersediaan air mempengaruhi laju fotosintesis karena air merupakan bahan baku dalam proses ini.
e.       Suhu, umumnya semakin tinggi suhunya, laju fotosintesis akan meningkat, demikian juga sebaliknya. Namun bila suhu terlalu tinggi, fotosintesis akan berhenti karena enzimenzim yang berperan dalam fotosintesis rusak. Oleh karena itu tumbuhan menghendaki suhu optimum (tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi) agar fotosintesis berjalan secara efisien.

2.      Daun Sebagai Organ Fotosintesis
Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Daun pada umumnya tipis meleba, kaya akan suatu zat warna hijau disebut klorofil. Tumbuhan mengambil zat-zat dari lingkungan yaitu zat-zat yang bersifat anorganik. Air beserta garam-garam diambil dari tanah oleh akar tumbuhan, sedang gas CO2 diambil melalui stomata.
Menurut Tjitrosoepomo (1998fungsi daun bagi tumbuhan yaitu sebagai alat untuk :
a.       Pengambilan zat makanan (reabsorbsi) terutama yang berupa zat gas.
b.      Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)
c.       Penguapan air (transpirasi)
d.      Pernapasan (respirasi)
Sedang menurut Fahn (1995), fungsi utama daun adalah menjalankan sintesis senyawa-senyawa organik denga menggunakan cahaya sebagai sumber energi yang diperlukan, yaitu yang dikenal dengan nama fotosintesis. Proses perubahan energi berlangsung dalam organel sel khusus yang disebut kloroplas.

3.      Pigmen Fotosintesis
Proses fotoseintesis tidak dapat berlangsung pada setiap sel, tetapi hanya pada sel yang mengandung pigmen fotosintesis. Pigmen fotosintesis merupakan suatu zat warna yang dapat menangkapa gelombang cahaya tertentu yang dijadikan sumber energi bagi berlangsungnya fotosintesis. Pigmen fotosintesis yang dapat mengabsorbsi cahaya matahari dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu:
1.      Klorofil
Mampu menangkap cahaya dan panjang gelombang 400-500 nm (warna hijau dan biru) dan 600-700 (jingga dan merah), klorofil bersifat memantulkan cahaya dan panjang gelombang 500-600 nm (hijau) sehingga tumbuhan yang berklorofil akan tampak berwarna hijau.
2.      Karotenoid
Mampu menangkap cahaya dengan panjang gelombang 400-500 nm. Tumbuhan yang memiliki karotenoid akan tampak berwarna kuning, jingga atau merah karena pigmen ini bersifat menentukan warna-warna tersebut.
3.      Fikobilin
Terutama dimiliki oleh kloro bakteri dan ganggang merah, mampu mengabsorbsi cahaya dengan panjang gelombang 450-650 nm.
Pigmen fotosintesis ini terdapat pada membran tilakoid yang merupakan satuan penyusun grana dimana reaksi terang terjadi. Pada tumbuhan tingkat tinggi, pigmen fotosintesis atau pigmen penangkap cahaya yang utama adalah klorofil, sedang karotenoid merupakan pigmen pelengkap. Pigmen karotenoid menyerap cahaya pada gelombang yang berbeda dengan yang diserap oleh klorofil dan karenanya merupakan penerima cahaya yang saling melengkapi. Variasi proporsi pigmen membawa perbedaan yang khas pada warna sel fotosintetik. (Lehninger, 1982)

4.      Cynometra cauliflora
Klasifikasi :
Kingdom   : Plantae
Divisio       : Magnoliophyta
Class          : Magnoliopsida
Ordo          : Fabales
Family       : Fabaceae
Subfamily  : Caesalpinioideae
Tribe          : Detarieae
Genus        : Cynometra L.
Spesies      : Cynometra cauliflora L.

Cynometra cauliflora merupakan perdu atau pohon kecil, dengan tinggi 3 m dan dapat mencapai tinggi hingga 15 m, bertajuk agak padat dengan percabangan yang berbiku-biku. Daun berpasangan dengan 1 pasang anak daun; anak daun bundar telur lonjong, tidak simetris, panjang 5,5 - 16,5 cm dan lebar 1,5 - 5,5 cm, hampir duduk. Daun muda berwarna putih atau merah jambu terang, menggantung lemas serupa saputangan.
Perbungaan kauliflori yaitu bunga tumbuh langsung pada batang pohon, bukan di ujung cabang, sehingga penunjuk jenisnya ”cauliflora”. 4 - 5 tandan kecil bunga mengelompok bersama-sama pada benjolan-benjolan batang di atas tanah, panjang rakis 0,5 - 3 cm, kelopak bunga putih merah muda, mahkota putih, benang sari 8 - 10. Buah polong, berbentuk ginjal, panjang 3 - 9 cm dan lebar 2 - 6 cm, coklat. Biji berbentuk ginjal gepeng dan coklat, panjang 3 - 6 cm dan lebar 2 - 4 cm.
Cynometra cauliflora tumbuh bagus di daerah dataran rendah tropik basah. Tumbuhan ini menyukai sinar matahari penuh dan toleran pada tempat yang teduh. Curah hujan tahunan 1500 - 2000 mm dan suhu harian yang cocok adalah 22-35°C. Di samping itu Cynometra cauliflora juga resisten terhadap angin.

B.     Hipotesis
Daun yang berwarna hijau (dominan terhadap pigmen fotosintesis klorofil) pada Cynometra cauliflora mempunyai laju fotosintesis yang lebih besar dibandingkan dengan daun yang berwarna merah (dominan terhadap pigmen fotosintesis karotenoid), karena klorofil merupakan pigmen penangkap cahaya matahari yang utama sedangkan karotenoid merupakan pimen pelengkap saja, sehingga proses fotosintesis pun akan lebih cepat pada daun yang pigmen fotosintesisnya dominan tersusun atas klorofil.



BAB III
METODOLOGI

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah observasi dengan menggunakan aparatus fotosintesis hasil modifikasi berdasarkan metode volumetrik sederhana.
B.       Waktu dan Tempat
Penelitian akan dilaksanakan pada :
hari/tanggal  : Selasa, 24 November 2009
waktu           : 09.00 – 10.00 WIB
tempat          : Kebun halaman Laboratorium Biologi FMIPA UNY
C.      Variabel Penelitian
1.      Variabel Bebas      : jenis pigmen fotosintesis penyusun daun, umur
   daun.
2.      Variabel Terikat    : laju fotosintesis.
3.      Kontrol                  : kertas saring yang ditetesi buffer karbonat.
D.      Populasi dan Sampel
Populasi     : tumbuhan Cynometra cauliflora pada kebun halaman
  laboratorium Biologi FMIPA UNY
Sampel      : 3 buah daun tumbuhan Cynometra cauliflora yang berwarna
   merah dan hijau
E.       Alat dan Bahan Penelitian
1.      Alat yang diperlukan
a.       Botol jam  2 buah            
b.      Karet penutup botol jam 2 buah
c.       Pipa kapiler  2 buah
d.      Tabung reaksi  4 buah
e.       Karet penutup tabung reaksi  4 buah
f.       Pipet tetes  1 buah
g.      Kertas saring  2 buah
h.      Jarum suntik  1 buah
i.        Stop watch  1 buah
j.        Termometer  1 buah
k.      Gunting  1 buah
2.      Bahan yang diperlukan
a.       Daun merah (muda) tumbuhan Cynometra cauliflora
b.      Daun hijau (tua) tumbuhan Cynometra cauliflora
c.       Eosin
d.      Larutan buffer karbonat
e.       Vaselin
f.       Air

F.     Cara Kerja
1.      Memotong bagian daun, baik daun merah maupun hijau dengan ukuran 3 x 1 cm2.          
2.    Memotong kertas saring sesuai dengan ukuran potongan daun tersebut sebanyak 2 buah.
3.    Menetesi kertas saring dengan larutan buffer karbonat menggunakan pipet tetes.
4.    Memasukkan secara bersama-sama daun dan kertas saring ke dalam tabung reaksi.
5.  Menyatukan pipa kapiler berskala dengan tabung yang sebelumnya telah dipasang karet penyumbat, kemudian dibubuhi vaselin agar tidak terjadi kebocoran.
6.    Mengisi air pada rangkaian alat dan menunggu selama 2 menit.
7.    Memasukkan eosin dengan menggunakan alat suntik ke dalam pipa kapiler untuk mengetahui perubahan gas yang keluar.
8.    Mengamati perubahan letak eosin tiap 2 menit selama 10 menit.
9.    Mengulangi percobaan hingga 3 kali.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Pengamatan
No.
Peng-ulangan
Perubahan Gas yang Keluar tiap 2 menit (ditandai dengan kenaikan eosin)
Daun Merah (Muda)
Daun Hijau (Tua)
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1.
I
0,02
0,03
0,00
0,01
0,00
0,02
0,02
0,01
0,00
0,005
2.
II
0,02
0,005
0,01
0,02
0,01
0,04
0,03
0,04
0,00
0,00
3.
III
0,02
0,01
0,025
0,00
0,00
0,10
0,02
0,01
0,01
0,03
Rata-rata
0,02
0,015
0,012
0,01
0,003
0,053
0,023
0,02
0,053
0,012

Kontrol
No.
Peng-ulangan
Perubahan Gas yang Keluar tiap 2 menit (ditandai dengan kenaikan eosin)
Kertas Saring pada Daun Merah (Muda)
Kertas Saring pada Daun Hijau (Tua)
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1.
I
0,12
0,02
0,01
0,00
0,02
0,05
0,08
0,02
0,01
0,005
2.
II
0,05
0,05
0,03
0,05
0,01
0,08
0,05
0,06
0,00
0,00
3.
III
0,06
0,03
0,02
0,00
0,00
0,10
0,03
0,02
0,01
0,05
Rata-rata
0,077
0,033
0,02
0,012
0,01
0,077
0,053
0,033
0,006
0,03

  1. Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui laju fotosintesis berdasarkan jenis pigmen fotosintesis yang terdapat pada sel mesofil daun Cynometra cauliflora serta untuk mengetahui perbedaan laju fotosintesis pada daun muda dan daun tua tumbuhan Cynometra cauliflora. Alat yang dibutuhkan adalah botol jam, karet penutup botol jam, pipa kapiler, tabung reaksi, karet penutup tabung reaksi, pipet tetes, kertas saring, jarum suntik, stop watch, termometer, dan gunting. Sedangkan bahan yang dibutuhkan yaitu daun merah (muda) tumbuhan Cynometra cauliflora, daun hijau (tua) tumbuhan Cynometra cauliflora, eosin, larutan buffer karbonat, vaselin, dan air.
Laju fotosintesis dapat diukur menggunakan aparatus fotosintesis hasil modifikasi berdasarkan metode volumetrik sederhana. Laju dinyatakan dalam mm3 CO2/cm2/menit.Langkah yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, kemudian memotong daun dengan ukuran 3x1 cm2, baik pada daun merah maupun hijau. Memotong kertas saring sesuai dengan ukuran potongan daun tersebut sebanyak 2 buah dan menetesinya menggunakan larutan buffer karbonat menggunakan pipet tetes. Larutan buffer karbonat ini digunakan untuk pembanding (kontrol) terhadap laju fotosintesis daun.
Pada tabung reaksi yang pertama dimasukkan kertas saring yang ditetesi buffer karbonat dan daun yang diuji lau besama-sama pada tabung reaksi yang kedua hanya dimasukkan kertas saring yang ditetesi buffer karbonat saja. Pipa kapiler disatukan dengan tabung reaksi yang sebelumnya telah dipasang karet penutup, kemudian diolesi dengan vaselin agar tidak terjadi kebocoran. Mengisi air ke dalam botol jam dan merangkaikannya dengan tabung reaksi yang sudah dipasang dengan karet penutup. Menunggu rangkaian alat hingga 2 menit, supaya keadaan dalam tabung reaksi serta proses fotosintesis daun berlangsung stabil.
Setelah dua menit, eosin dimasukkan ke dalam pipa kapiler dengan menggunakan alat suntik untuk mengetahui perubahan gas yang keluar. Eosin merupakan cairan berwarna merah yang biasanya dipakai untuk eksperimen biologi mengenai” kecepatan laju O2 yang dibutuhkan serangga dan tumbuhan”. Eosin ini digunakan sebagai penanda pengukuran pada pipa kepiler. Setiap kenaikan eosin merupakan jumlah gas yang dikeluarkan oleh daun maupun kertas saring, sehingga dapat diketahui laju fotosintesis daun tersebut. Mengamati perubahan letak eosin tersebut setiap 2 menit selama 10 menit, dan memasukkan hasilnya ke dalam tabel pengamatan.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapat bahwa kecepatan pengeluaran gas daun hijau (tua) lebih banyak daripada daun merah (muda). Gas yang dikeluarkan merupakan gas hasil proses fotosintesis daun yaitu O2. Apabila pengeluaran CO2 banyak maka dapat diartikan bahwa proses fotosintesisnya berlangsung cepat sehingga laju fotosintesisnyapun cepat. Berdasarkan analisis tersebut, dapat ditarik pemahaman bahwa laju fotosintesis pada daun yang berwarna hijau lebih cepat daripada laju fotosintesis pada daun yang berwarna merah.
 Pada saat pengulangan percobaan kedua, tidak dapat diketahui penambahan eosin dari menit kedelapan sampai kesepuluh pada daun hijau (daun tua). Hal ini disebabkan karena eosin yang digunakan sebagai pengukur telah melebihi ujung pipa kapiler dan keluar akibat dorongan dari gas pengeluaran fotosintesis daun yang terjadi terus-menerus. Ini terjadi karena eosin yang disuntikkan tidak terlalu dalam sehingga dengan cepat eosin keluar dari pipa kapiler. Kondisi serupa juga terjadi pada percobaan pengulangan ketiga daun merah (daun muda) dengan alasan yang sama pula. Sehingga data yang dihasilkanpun kurang akurat karena faktor praktikan yang kurang teliti dalam melakukan percobaan.
Pada kloroplas daun merah tersusun oleh sebagian besar karotenoid dan belum ada klorofil, sedangkan pada daun hijau tersusun sebagian besar atas klorofil. Apabila hal tersebut dihubungkan dengan kecepatan fotosintesis, maka daun dengan kandungan klorofil yang tinggi mempunyai laju fotosintesis yang lebih besar dibandingkan dengan daun yang tersusun atas karotenoid. Pigmen fotosintesis yang terkandung dalam daun pun dipengaruhi oleh umur daun tersebut, pada daun muda Cynometra cauliflora tersusun atas sebagian besar pigmen fotosintesis karotenoid dan daun tua tersusun atas sebagian besar klorofil. Jadi kecepatan fotosintesis juga dipengaruhi oleh umur daun tersebut. Seiring dengan penambahan umur daun, maka kandungan klorofilnya semakin banyak pula dan menyebabkan laju fotosintesisnya semakin cepat. Namun apabila daun telah terlampau tua, maka akan terjadi degradasi klorofil atau klorosis yang menyebabkan kandungan klorofilnya semakin sedikit sehingga laju fotosintesisnyapun lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Dwijoseputro, D.. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia
Fahn, A.. 1990. Anatomi Tumbuhan. Terjemahan Sitti Soetarmi Tjitrosoemo dan tim. Yogyakarta : UGM Press
Lehninger, A.. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Suyitno. 2007. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta : FMIPA UNY
Tjitrosoepomo, G.. 1998. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


Disusun oleh :  Hafidha Asni Akmalia 08304241003
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah. Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direa…