Langsung ke konten utama

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI



LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN
PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

Disusun Oleh :
Kelompok 4
Pendidikan Biologi Subsidi
1.          Hafidha Asni Akmalia            (08304241003)
2.          Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022)
3.          Riza Sativani Hayati               (08304241029)
4.          Nur Hidayah                           (08304241030)
5.          Titis Nindiasari A.                   (08304241036)



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010
A.    TUJUAN
Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro

B.     DASAR TEORI
Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk sari.

Penyerbukan merupakan peristiwa pemindahan atau jatuhnya pollen dari anther pada kepala putik (stigma) baik pada bunga yang sama atau bunga lain yang masih dalam satu spesies. Jika pollen sesuai (compatible), pollen akan berkecambah pada kepala putik dan membentuk sebuah tabung pollen yang akan membawa gamet jantan pada gametofit betina. Suatu senyawa protein tertentu pada awal pembentukan pollen yang disebut Lectin, terdapat di dalan exine dan intine. Lectin berperan penting dalam mekanisme mengenali antara putik-pollen. Namun bila pollen tidak sesui (incompatible), perkecambahan pollen akan terhambat atau pertumbuhan tabung pollen akan tertahan dalam jaringan pemindah.
Pollen akan segera berkecambah setelah beberapa menit dilepas oleh anther, bila ketersediaan dari air, garam anorganik tertentu, termasuk boron dan sumber energi seperti sukrose cukup. Tabung pollen akan masuk ke dalam stigma melalui diantara sel-sel jaringan pemindah di dalam stylus dan akhirnya mencapai ovul. Waktu yang diperlukan pollen untuk mencapai ovul antara 12-24 jam. Waktu yang digunakan untuk proses tersebut setiap spesies tidak sama, seperti pada Taraxacum diperlukan 15 menit sedangkan pada pohon Quercus memerlukan waktu 14 bulan.
Kepala putik yang telah masak biasanya mengeluarkan lendir yang mengandung gula dan zat-zat lain yang diperlukan untuk perkecambahan serbuk sari. Bilamana serbuk sari jatuh di atas kepala putik, maka dalam keadaan normal akan menyerap cairan yang dihasilkan oleh kepala putik, kemudian akan menggembung dan berkecambah. Untuk perkecambahan serbuk sari umumnya diperlukan suhu berkisar antara 150C sampai 350C. Pada suhu yang lebih tinggi akan terjadi penguapan sehingga banyak serbuk sari yang kering. Pada suhu 400C sampai 500C banyak serbuk sari mati. Sebaliknya pada suhu yang terlalu rendah misalnya di bawah 100C, tidak ada serbuk sari yang dapat berkecambah. Pada umumnya suhu optimum yang diperlukan untuk perkecambahan serbuk sari berkisar pada 250C.
Pemanjangan tabung pollen adalah tetap untuk setiap spesies. Ketika butir pollen siap dipencarkan, pollen ini dalam keadaan dormansi dengan kadar air antara 10-15% hampir mirip dengan biji. Pada Gramineae mempunyai umur pollen yang relatif pendek, misalnya pollen Paspalpum akan kehilangan viabilitasnya setelah 30 menit. Kebanyakan pada tanaman berbunga pollen akan mengalami penurunan secara drastis setelah 12 jam mengalami dehiscence. Namun viabilitas pollen dapat diperpanjang dalam keadaan artifisial yaitu bila disimpan pada temperatur dan kelembaban yang rendah. 
Serbuk sari yang baik diperoleh dari kuncup bunga yang telah dewasa (hampir mekar). Pada saat itu ruang sari belum pecah dan berisi penuh dengan serbuk sari dengan daya tumbuh yang tinggi. Serbuk sari makin lama berada di alam bebas makin berkurang daya pertumbuhannya sampai suatu saat tidak dapat tumbuh sama sekali. Kemampuan ini disebut dengan viabilitas serbuk sari.
Viabilitas serbuk sari dapat diketahui dengan menumbuhkannya secara in vitro dengan menggunakan medium buatan. Medium yang digunakan ada 2 macam, yaitu medium A yang terdiri atas 0,5% sukrosa, 20% agar dan 0,001% H3BOatau medium B yang terdiri atas 30 g/l sukrosa, 300 mg/l Ca(NO3)2.4H2O, 200 mg/l MgSO4.7H2O, 10 mg/l KNO3 dan 100 g/l H3BO3. Namun medium yang paling banyak digunakan adalah medium A karena mudah dalam pembuatan dan biaya yang dikeluarkan tidak begitu banyak. Penambahan pada medium dapat mempercepat perkecambahan dan pertumbuhan buluh serbuk sari. Pembuatan media tumbuh serbuk sari ini pada prinsipnya disamakan dengan lingkungan dimana serbuk sari itu tersimpan pada kantong yang ada pada bunga (lingkungan disamakan dengan lingkungan aslinya).

C.    ALAT DAN BAHAN
1.         Serbuk sari dari tanaman tapak dara (Vinca rosea)
2.          Serbuk sari dari tanaman Nam-nam (Cynometra cauliflora).   
3.         Agar-agar ± 1% dengan sukrosa 10 %
4.         Gelas Beker
5.         Kaki tiga
6.         Air
7.         Pengaduk
8.         Lampu Spiritus
9.         Korek api
10.     Cawan Petri
11.     Tusuk gigi
12.     Gelas Benda dan penutupnya
13.     Mikroskop Cahaya

D.    CARA KERJA
1.         Memanaskan larutan sukrosa 10%  dan agar-agar ± 1%, sampai agar-agar larut.
2.         Memilih jenis bunga yang akan diamati dan mengambil putik dimana akan diambil serbuk sarinya.
3.         Meneteskan larutan agar-agar tersebut pada gelas objek.
4.         Mengambil benang sari dengan tusuk  gigi dan menaburkan serbuk sari pada media agar-agar yang telah dibuat.
5.         Meletakkan kertas saring basah pada alas cawan petri untuk menjaga kelembaban serbuk sari.
6.         Menyimpan gelas benda  di atas kertas saring dengan diganjal tusuk gigi pada kedua ujungnya.
7.         Menutup cawan petri lalu tiap 5 menit serbuk sari dikeluarkan.
8.         Mengamati  serbuk sari di bawah mikroskop setiap interval waktu 5 menit sampai serbuk sari berkecambah.
9.         Mencatat waktunya dalam tabel.
10.     Memilih beberapa serbuk sari untuk dijadikan fokus pengamatan dan catat pertumbuhan totalnya pada interval waktu 10 menit selama 60 menit.
11.     Mengembalikan preparat ke dalam cawan tertutup saat tidak dilakukan pengamatan.

E.     Hasil Pengamatan

Keterangan Data Kelas :

F.     PEMBAHASAN
Praktikum reproduksi embriologi tumbuhan yang berjudul Perkecambahan Serbuk Sari" ini bertujuan untuk mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro. Perkecambahan secara in vitro adalah perkecambahan serbuk sari dengan bantuan medium yang kondisinya hampir sama dengan kepala putik sehingga serbuk sari dapat berkecambah dengan maksimal. Medium yang digunakan dalam praktikum ini adalah medium yang komposisinya terdiri dari agar-agar dan glukosa.  Tujuan dari perkecambahan invitro adalah untuk melakukan optimalisasi perkecambahan agar penyerbukan dapat terjadi secara maksimal tanpa berada dalam kepala putik. Perkecambahan in vitro  juga digunakan untuk mengetahui viabilitas dari serbuk sari yaitu kemampuan serbuk sari untuk berkecambah dalam jangka waktu tetentu. Prinsip dari perkecambahan in vitro adalah menyamakan kondisi medium dengan kondisi kepala putik, tempat dimana serbuk sari berkecambah secara alami. Medium yang digunakan harus mendekati kondisi lingkungan di kepala putik, agar serbuk sari dapat berkecambah dengan baik.
Dalam praktikum ini digunakan medium yang terbuat dari agar-agar 1%  bubuk putih dan sukrosa 10 %. Penggunaan medium ini disesuaikan dengan kondisi kepala putik yang mengandung gula. Kedua bahan ini dicampur dengan cara dipanaskan di atas lampu spiritus, yang bertujuan untuk mempercepat pelarutan agar-agar dan sukrosa dalam air. Setelah medium atau larutan agar dan sukrosa masak atau mendidih, maka sesegera mungkin medium dalam kondisi cair diteteskan pada kaca benda menggunakan tusuk gigi di tiga titik yaitu satu di tengah dan dua di samping. Penetesan ini harus dalam keadaan medium masih panas. Hal ini dikarenakan jika medium dingin, maka medium akan mengeras. Apabila medium dalam keadaan dingin (mengeras) maka serbuk sari tidak dapat melekat pada medium, sehingga pertumbuahan pollen pada media tidak maksimal. Kemudian  serbuk sari dari bunga ditaburkan di atas medium yang masih dalam keadaan cair.
Selanjutnya gelas benda dimasukkan ke dalam cawan petri, dimana dalam cawan petri sudah disiapkan kertas saring yang sudah dibasahi dengan air, diatas kertas saring basah tersebut diletakkan dua tusuk gigi yang diatur sejajar. Gelas benda diletakkan di atas dua tusuk gigi tersebut. Tujuan kertas saring yang basah yang ditempatkan pada cawan adalah agar serbuk sari tetap lembab sehingga tidak kering, karena jika serbuk sari dalam kondisi yang terlalu kering, maka serbuk sari tidak akan mampu berkecambah. Perlu diketahui juga bahwa saat penyimpanan sementara serbuk sari pada cawan, cawan harus ditutup rapat agar kelembaban dalam cawan terjaga. Setiap pengambilan kaca benda dari cawan harus diperhatikan kadar air dalam kertas saring. Pembasahan kertas saring diusahakan jangan sampai menyebabkan kertas saring mengambang. Di atas kertas saring diberikan tusuk gigi agar kaca benda tidak menempel secara langsung ke kertas saring yang basah, yang dapat memungkinkan media terkena air bila saat penambahan air pada kertas saring terlalu banyak, serta untuk memudahkan ketika hendak mengambil gelas benda untuk diamati di bawah mikroskop sehingga kertas saring tidak ikut menempel.
Pengamatan serbuk sari menggunakan mikroskop dilakukan dalam selang waktu 5 menit hingga serbuk sari tersebut berkecambah dengan ciri munculnya buluh yang merupakan pemanjangan dari intin yang berada pada dinding serbuk sari. Intin ini akan memanjang, menembus pada wilayah apertura serbuk sari. Pembentukan buluh sari ini bertujuan untuk memberikan jalan bagi sel kelamin jantan dapat mencapai kantong embrio dan terjadi pembuhan dengan sel telur.
Pengamatan di bawah mikroskop hendaknya tidak dilakukan terlalu lama, hal ini bisa menyebabkan media pengamatan mengering dan serbuk sari tidak dapat berkecambah dengan baik, karena mikroskop cahaya menggunakan lampu yang menimbulkan panas dan bila objek pengamatan terlalu lama diamati, maka kandungan airnya akan menguap dan menyebabakan objek mengering.
Dari pengamatan perkecambahan serbuk sari bunga tapak dara saat kondisi bunga kuncup pada kelompok kami yaitu kelompok 4, diketahui buluh serbuk sari muncul setelah pengamatan pada menit ke-15, dan hanya terdapat satu buluh saja yang keluar, sehingga disebut dengan monosporik. Buluh sari baru muncul pada menit ke 15, hal ini kemungkinan terjadi karena bunga masih terlalu muda, sehingga serbuk sari belum begitu siap untuk melakukan perkecambahan. Faktor lain yang dapat menyebabkan lambatnya proses perkecambahan serbuk sari di antaranya karena media yang digunakan kurang sesuai dengan kondisi untuk berkecambah yang sesungguhnya, seperti terlalu kering. Kemungkinan lain, kami selaku praktikum mungkin kurang berhati-hati dalam melakukan praktikum seperti misalnya lupa menutup cawan petri dengan tutupnya sehingga suhu di dalam cawan petri tidak mendukung untuk perkecambahan serbuk sari. Sehingga, serbuk sari kurang maksimal dalam berkecambah.
Serbuk sari yang dapat berkecambah dalam waktu 5 menit dapat dikarenakan serbuk sari sudah benar-benar masak, sehingga dalam medium yang dibuat hampir sama dengan kondisi medium di kepala putik serbuk sari dapat segera berkecambah dengan baik. Kemungkinan yang lain yaitu karena medium buatan mempunyai kondisi yang sesuai dengan kondisi perkecambahan serbuk sari secara alami, yaitu pada suasana yang lembab dan suhu yang hangat tetapi tidak panas. Dalam memberikan kondisi lingkungan lembab tersebut, dilakukan dengan membasahi kertas saring sebagai dasar atau alas dalam cawan petri dan menutup cawan petri agar air tersebut tidak menguap keluar, tetapi hanya ada di dalam ruangan biakan (cawan petri) sehingga uap air tersebut dapat memberikan kondisi yang lembab pada medium perkecambahan serbuk sari. Dan ketika pengamatan dengan mikroskop, kemungkinannya praktikan tidak mengamatinya terlalu lama sehingga masih dapat mempertahankan kondisi ruang biakan perkecambahan serbuk sari (di dalam cawan petri) dengan suhu yang terjaga. Walaupun lampu mikroskop mengeluarkan energi panas, yang dapat menyebabkan medium kering/tidak lembab dan mempertinggi suhu, bila pengamatannya hanya sebentar maka tidak begitu mempengaruhi terjadinya perubahan kondisi yang ekstrim dengan kondisi di ruang biakan perkecambahan serbuk sari (di dalam cawan petri).
Serbuk sari yang tidak dapat berkecambah, seperti pada kelompok terakhir, dapat dikarenakan sebuk sari belum masak, sehingga walaupun ditaruh dalam  medium yang hampir sama dengan kondisi perkecambahan alaminya tetap tidak bisa menghasilkan buluh serbuk sari. Dapat juada dikarenakan serbuk sari terlalu masak atau terlewat masak, sehingga kemampuannya untuk berkecambah sudah berkurang atau tidak bisa sama sekali walaupun ditaruh dalam medium yang sesuai untuk perkecambahannya. Hal lain yang dapat menyebabkan tidak terbentuknya buluh sari pada serbuk sari tersebut antara lain karena kondisi medium buatan kurang sesuai atau bahkan tidak sesuai dengan kondisi perkecambahan alaminya yaitu pada suhu hangat dan lembab atau pun nutrisi yang diberikan pada medium buatan masih kurang. Ketika pengamatan dengan mikroskop berlangsung, kemungkinannya praktikan mengamati terlalu lama sehingga panas yang dihasilkan lampu mikroskop menyebabkan penguapan cairan medium atau di sekitar medium, sehingga kelembabannya berkurang atau bahkan kering sama sekali. Panas dari lampu mikroskop ini juga dapat meningkatkan suhu medium, sehingga kondisinya tidak sesuai untuk berkecambah atau membentuk buluh sari.
Serbuk sari yang memerlukan waktu yang cukup lama untuk berkecambah, yaitu sekitar 15 menit, dapat disebabkan karena serbuk sari belum benar-benar masak, sehingga masih membutuhkan waktu untuk pemasakan terlebih dahulu, dan setelah masak maka serbuk sari dapat berkecambah dengan baik bila kondisi mediumnya sesuai yaitu dalam suasana yang lembab dan pada suhu hangat serta mempunyai kandungan nutrisi yang baik. Ketika pengamatan berlangsung, kemungkiannya dilakukan dengan prosedur yang sesuai dan tidak terlalu lama mengamati di bawah mikroskop (di luar ruang biakan perkecambahan serbuk sari), sehingga kondisi untuk perkecambahannya tetap terjaga, dan serbuk sari dapat berkecambah meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Lamanya waktu perkecambahan juga dapat dikarenakan pada awal peletakan serbuk sari pada medium biakan, kondisi medium tersebut masih belum sesuai dengan kondisi perkecambahan serbuk sari secara alami di kepala putik, seperti kurang lembab atau suhunya terlalu rendah karena kelembabannya terlalu tinggi atau bahakan suhunya terlalu panas. Namun lama-kelamaan kondisi medium tersebut berubah menjadi kondisi yang sesuai untuk berkecambah, sehingga pada waktunya, serbuk sari dapat berkecambah dengan baik.

G.      KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Perkecambahan serbuk sari secara in-vitro adalah perkecambahan serbuk sari pada media buatan, dimana lingkungan yang ada pada medium itu hampir sama dengan kepala serbuk sari tempat disimpannya serbuk sari tersebut.
2.    Pertumbuhan buluh serbuk sari diawali oleh pemanjangan intin yang menembus apertura dimana pada intin terdapat inti vegetatif dan  dua inti generatif.
3.    Viabilitas perkecambahan serbuk sari dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban lingkungan, serta kelengkapan nutrisi yang sesuai untuk membentuk buluh serbuk.

H.      DISKUSI
1.    Apa tujuan pengamatan perkecambahan serbuk sari?
Jawab : Untuk mengetahui perkembangan buluh serbuk sari pada keadaan in vitro.
2.    Secara alami, dimana terjadi perkecambahan serbuk sari?
Jawab : Secara alami perkecambahan terjadi di atas kepala putik yaitu ketika serbuk sari itu sendiri.
3.    Apa yang dimaksud dengan polinasi dan fertilisasi?
Jawab : a. Polinasi adalah proses pemindahan/penempelan serbuk sari dari kepala sari (anthera) ke kepala putik (stigma) umumnya terjadi pada bunga yang sama.
b.    Fertilisasi adalah bertemu/meleburnya inti generatif 1 (sel sperma) dengan sel telur (ovum) membentuk zigot dan inti generatif 2 (sel sperma) dengan inti polar membentuk endosperm pada tumbuhan angiospermae.
4.      Berapa jumlah inti yang terdapat di dalam buluh serbuk sari angiospermae?
Jawab : Di dalam buluh serbuk sari angiospermae, ada tiga inti yaitu 1 inti vegetatif dan 2 inti generatif (sel sperma)


Komentar

  1. trims mbak Amalia yang cantik.... lumayan untuk referensi praktikumku... ijin share ya....?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH

MAKALAH BIOLOGI TANAH PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Tanah






Disusun Oleh : Hafidha Asni Akmalia                08304241003 Alfiah Nurul Wahidah                 08304241019 Muhammad Radian N.A.            08304241034



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yan…