Langsung ke konten utama

PEMBUATAN VERMIKOMPOS




LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI TANAH

PEMBUATAN VERMIKOMPOS


                                   


       Disusun Oleh :
Zulkarnain Assiddiqqi              (08304241001)
Hafidha Asni Akmalia              (08304241003)
Dian Fita Lestari                     (08304241005)
Endah Setyo Rini                    (08304241010)
Ella Sofian Nova                     (08304241025)

                                                   Pendikan Biologi Subsidi ‘08



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

A.    Judul             
Pembuatan Vermikompos

B.     Tujuan                      
Mengetahui cara pembuatan vermikompos

C.    Kajian Pustaka
Vermikompos adalah  kompos yang diperoleh dari hasil perombakan bahan-bahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah. Vemikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karena itu vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan kompos lain yang kita kenal selama ini.

Vermikomposting juga disebut proses dekomposisi bahan organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan mikroorganisme. Komponen utama dalam vermikomposting terdiri atas: kesesuaian  substrat, faktor lingkungan, jenis cacing tanah, desain composter dan pengoperasian. Kualitas vermikompos dari limbah organik yang dihasilkan tergantung dari bahan organik awalnya.
Cacing tanah yang digunakan dalam proses vermikomposting, juga sebaiknya yang memenuhi syarat seperti memiliki laju reproduksi yang tinggi, tingkat produksi kokon yang tinggi, waktu perkembangan kokon pendek dan keberhasilan penetasan kokon yang tinggi. selain itu, cacing tanah yang memiliki tingkat konsumsi bahan organik yang tinggi dan toleransi terhadap perubahan lingkungan yang luas dapat digunakan di dalam proses vermikomposting.
Spesies cacing tanah yang  biasanya digunakan dalam proses vermikomposting adalah E. Fetida, L.terestris, Eudrillus eugeniae dan P. Excavatus. Habitatnya berada di tempat lembab dan hidup dalam  kotoran hewan, yang mana berperan sebagai pemakan seresah.
Vermikompos mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti N, p, K, Ca, Mg, S. Fe, Mn, AI. Na, Cu. Zn, Bo dan Mo tergantung pada bahan yang digunakan. Vermikompos merupakan sumber nutrisi bagi mikroba tanah. Dengan adanya nutrisi tersebut mikroba pengurai bahan organik akan terus berkembang dan menguraikan bahan organik dengan lebih cepat. Oleh karena itu selain dapat meningkatkan kesuburan tanah, vermikompos juga dapat membantu proses penghancuran limbah organik. Vermikompos berperan memperbaiki kemampuan menahan air, membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah dan menetralkan pH tanah. Vermikompos mempunyai kemampuan menahan air sebesar 40-60%. Hal ini karena struktur vermikompos yang memiliki ruang-ruang yang mampu menyerap dan menyimpan air, sehingga mampu mempertahankan kelembaban. Tanaman hanya dapat mengkonsumsi nutrisi dalam bentuk terlarut. Cacing tanah berperan mengubah nutrisi yang tidak larut menjadi bentuk terlarut. yaitu dengan bantuan enzim-enzim yang terdapat dalam alat pencernaannya. Nutrisi tersebut terdapat di dalam vermikompos, sehingga dapat diserap oleh akar tanaman untuk dibawa ke seluruh bagian tanaman.
Vermikompos banyak mengandung humus yang berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah. Humus merupakan suatu campuran yang kompleks, terdiri atas bahan-bahan yang berwarna gelap yang tidak larut dengan air (asam humik, asam fulfik dan humin) dan zat organik yang larut (asam-asam dan gula). Kesuburan tanah ditemukan oleh kadar humus pada lapisan olah tanah. Makin tinggi kadar humus (humic acid) makin subur tanah tersebut. Kesuburan seperti ini dapat diwujudkan dengan menggunakan pupuk organik berupa vermikompos, karena vermikompos mengandung humus sebesar 13,88%. Vermikompos mengandung hormon  tumbuh  tanaman. Hormon tersebut tidak hanya memacu perakaran pada cangkokan. tetapi juga memacu pertumbuhan akar tanaman di dalam tanah, memacu pertunasan ranting-ranting baru pada batang dan cabang pohon, serta memacu pertumbuhan daun.
Vermikompos mengandung banyak mikroba tanah yang berguna, seperti aktinomisetes 2,8 x 106 sel/gr BK, bakteri 1,8 x 10 8 sel/gr BK dan fungi 2,6 x 105 sel/gr BK. Dengan adanya mlkroorganisme tersebut berarti vermikompos mengandung senyawa yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kesuburan tanah atau untuk pertumbuhan tanaman antara lain bakteri Azotobacter sp yang merupakan bakteri penambat N2 non simbiotik yang akan membantu memperkaya N di dalam vermikompos. Di samping itu Azotobacter sp juga mengandung vitamin dan asam pantotenat.
Kandungan N vermikompos berasal dari perombakan bahan organik yang kaya N dan ekskresi mikroba yang bercampur dengan tanah dalam sistem pencernaan cacing tanah. Peningkatan kandungan N dalam bentuk vermikompos selain disebabkan adanya proses mineralisasi bahan organik dari cacing tanah yang telah mati, juga oleh urin yang dihasilkan dan ekskresi mukus dari tubuhnya yang kaya N. Vermikompos mempunyai struktur remah, sehingga dapat mempertahankan kestabilan dan aerasi tanah. Vermikompos mengandung enzim protease,amilase, lipase dan selulase yang berfungsi dalam perombakan bahan organik. Vermikompos juga dapat mencegah kehilangan tanah akibat aliran permukaan. Pada saat tanah masuk ke dalam saluran pencernaan cacing. maka cacing akan mensekresikan suatu senyawa yaitu Ca-humat. Dengan adanya senyawa tersebut partikel-partikel tanah diikat menjadi suatu kesatuan (agregat) yang akan dieksresikan dalam bentuk casting. Agregat-agregat itulah yang mempunyai kemampuan untuk mengikat air dan unsur hara tanah.
Vermikompos yang dihasilkan dan usaha budidaya cacing tanah mencapai sekitar 70% dari bahan media atau pakan yang diberikan. Misalnya jumlah media atau pakan yang diberikan selama 40 hari budidaya sebanyak 100 kg maka vermikompos yang dihasilkan sebanyak 70 kg. Kualitas vermikompos tergantung pada jenis bahan media atau pakan yang digunakan, jenis cacing tanah dan umur vermikompos. Vermikompos yang dihasilkan dengan menggunakan cacing tanah Eisenia foetida mengandung unsur-unsur hara seperti N total 1,4-2,2%, P 0,6-0,7%, K 1,6-2,1%, C/N rasio 12,5-19,2, Ca 1,3 -1,6%, Mg 0,4-0,95, pH 6,5-6,8 dengan kandungan bahan organik mencapai 40,1 –48,7%.

D.    Alat dan Bahan
1.      Alat :
a.       Bak ukuran sedang
b.      Thermometer
c.       pH meter
d.      Karung goni
2.      Bahan  :
a.       Cacing
b.      Bubur kertas
c.       Seresah
d.      Air

E.     Cara Kerja


F.     Hasil Pengamatan



G.    Pembahasan
Praktikum pembuatan vermikompos ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan vermikomposing. Vermicomposing, merupakan suatu istilah untuk teknik pengomposan dengan menggunakan aktifator cacing tanah.  Menurut penelitian, pembuatan kompos dengan menggunakan cacing tanah terbukti dapat mempercepat proses pengompomposan berbagai limbah organik. Adapun bahan yang digunakan dalam proses vermikomposing ini meliputi cacing, bubur kertas, seresah, dan air. Serta peralatan yang dipakai antara lain yaitu bak ukuran sedang, thermometer, pH meter, dan karung goni. Dan untuk proses pembuatannya pertama kali yang dilakukan yaitu melubangi bak yang digunakan sebagai wadah pembuatan kompos. Pelubangan bak bertujuan sebagai  tempat sirkulasi udara dalam wadah dan  jika terdapat air dalam bak yang berlebihan dapat segera keluar melalui lubang bak. Kemudian, meletakkan bubur kertas setebal kurang lebih 2 cm di dasar wadah secara merata. Bubur kertas ini diperoleh dari kertas kardus yang telah dihilangkan tintanya terlebih dahulu, kemudian direndam dalam air selama kurang lebih 1 malam. Tujuan dari penghilangan tinta yaitu agar cacing tidak teracuni oleh logam berat yang terkandung dalam tinta. Sedangkan tujuan dari perendaman agar diperoleh bubur kardus yang lunak sehingga cacing dapat masuk kedalam sela-sela bubur kardus sebagai upaya adaptasi cacing terhadap lingkungan yang lembab. Karena kardus bersifat mampu menahan air atau secara tidak langsung menjaga kelembaban media. Selain itu juga memiliki sirkulasi udara dengan kategori sedang-baik karena mengandung selulosa yang tinggi untuk pengaturan aerasi dalam wadah.
Setelah pemberian bubur kardus, maka diletakkan seresah yang telah terpotong kecil-kecil (mendekati bentuk kompos) hingga mencapai kurang lebih ¾ dari wadah bak, yang mana sebelumnya dicampur menggunakan air. Pemberian media seresah ini berfungsi sebagai bahan utama sumber makanan bagi cacing. Yang nantinya cacing akan mengeluarkan kotoran-kotorang yang berguna sebagai kompos. Tahap selanjutnya yaitu meletakkan 100 ekor cacing kristal ke atas lapisan seresah. Cacing ini lah yang berfungsi sebagai pemakan bahan organik dan melalui proses pencernaannya, cacing mengeluarkan kotoran dari bahan organik yang telah dimakannya. Sehingga cacing berfungsi sebagai agen pembentukan kompos. Setelah pemberian cacing, maka ditutup menggunakan bubur kertas kurang lebih 1 cm. Hal ini berfungsi untuk menjaga kelembaban dari media yang digunakan untuk hidup cacing, sehingga baik permukaan atas maupun bawah akan tetap terjaga kelembabannya. Dan untuk tahap terakhir yaitu menutup bak wadah tersebut menggunakan karung goni. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga keadaan gelap sepanjang hari, sehingga cacing dapat bekerja. Serta dapat berfungsi sebagai aerasi karena terdapat lubang-lubang kecil pada karung goni. Cacing  tanah merupakan hewan nokturnal dan fototaksis negatif. Nokturnal artinya aktivitas hidupnya lebih banyak pada malam hari sedangkan pada siang harinya istirahat. Fototaksis negatif artinya cacing tanah selalu menghindar kalau ada cahaya, bersembunyi di dalam tanah. Bernafasnya tidak dengan paru-paru tetapi dengan permukaan tubuhnya. Oleh karena itu permukaan tubuhnya selalu dijaga kelembabannya, agar pertukaran oksigen dan karbondioksida berjalan lancar.
Pada praktikum ini, pengamatan dilakukan selama 2 minggu dimana untuk setiap minggu 1 kali pengamatan. Pengamatan yang dilakukan meliputi  pH, suhu, jumlah cacing dan berat cacing. Pada minggu pertama pengamatan, pH yang terukur sebesar 4,4 ; suhu 26 oC; jumlah cacing 102 ekor dengan berat 75 gram. Kemudian untuk minggu kedua, pH yang terukur sebesar 4,9 ;  suhu 29 oC, jumlah cacing 98 ekor dengan berat 90 gram. Pada pengamatan selama 2 minggu ini, terdapat perubahan baik suhu, pH, jumlah cacing, dan beratnya. pH yang naik menunjukkan adanya perubahan derajat keasaman menuju ke kisaran normal. Hal ini disebabkan kemungkinan karena cacing tanah mempercepat stabilisasi bahan organik dengan bantuan mikroorganisme aerob dan anaerob yang terdapat disaluran pencernaan cacing tanah. Cacing tanah merubah bahan organik secara alami menjadi bentuk yang halus, mengandung humus, dan vermikompos, yang merupakan nutrisi penting bagi tumbuhan. mikroorganisme menyebabkan degradasi secara biokim bahan organik dan cacing tanah memiliki peran mengubah substrat melalui aktivitas secara biologi. Mikroorganisme yang berperan dalam proses vermikomposting terutama bakteri, fungi, dan actinomycetes.
Kemudian, suhu media yang terukur menunjukkan peningkatan 3oC dari 26 oC menjadi 29 oC. Hal ini karena pengaruh pemecahan bahan organik yang menimbulkan panas. Sedangkan jika dilihat dari kisaran suhu tempat hidup yaitu antara 24 oC – 27 oC. Oleh karena itu, hal ini mempengaruhi jumlah cacing tanah. Karena pada minggu pertama pengamatan, tercatat 102 ekor cacing tanah, yang artinya mengalami penambahan jumlah dari semula karena dimungkinkan bereproduksi. Namun, setelah minggu kedua pengamatan, cacing tanah yang tercatat hanya tinggal 98 ekor. Hal ini menunjukkan penurunan sebanyak 4 ekor. Penurunan ini dimungkinkan  karena adanya perubahan suhu yang lebih tinggi dari kisaran normal tempat hidupnya. Sebab cacing untuk dapat hidup memerlukan kelembaban yang tinggi dan suhu yang tidak terlalu tinggi. Namun, selain itu, dapat juga disebabkan oleh faktor lainnya, seperti cacing tanah yang kurang terlihat ketika pengambilan, kesalahan dalam  penghitungan, adanya cacing tanah yang mati ketika pengambilan, serta faktor lain yang mempengaruhi berkurangnya jumlah cacing tanah.
Selanjutnya untuk berat cacing tanah yang terukur, pada minggu pertama dengan jumlah 102 ekor, memiliki berat  hanya sekitar 75 gram, sedangkan pada minggu kedua dengan  jumlah hanya 98 ekor namun beratnya lebih besar daripada minggu pertama yaitu sekitar 90 gram. Hal ini menunjukkan bahwa antara jumlah dan berat cacing tidak saling berkorelasi. Karena hal ini dimungkinkan dari per individu memiliki ukuran yang lebih besar daripada minggu pertama. Sehingga, dengan ukuran cacing yang lebih besar, meskipun dengan  jumlah yang lebih sedikit akan menghasilkan berat yang jauh lebih besar.
Selain perubahan jumlah dan berat tubuh  pada cacing, terdapat perubahan juga pada warna tubuhnya. Dimana pada mulanya berwarna merah menjadi berwarna coklat dengan panjang yang juga bertambah meskipun tidak dilakukan pengukuran terhadap panjang. Dan beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa cacing tanah ini melakukan aktivitas biologi untuk menghasilkan kompos, yang mana secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa cacing sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan media yang telah dibuat tersebut.
Pada vermikomposting ini menghasilkan dua manfaat utama, yaitu biomassa cacing tanah dan vermikompos. Vermikompos memiliki struktur halus, partikel-partikel humus yang stabil, porositas, kemampuan menahan air dan aerasi, kaya nutrisi, hormon, enzim dan populasi mikroorganisme. Vermikompos yang dihasilkan berwarna coklat gelap, tidak berbau dan mudah terserap air.
Pada proses vermikomposting ini, tidak hanya warna cacing yang berubah, namun kematangan vermikompos juga dapat terlihat. Selama proses konsumsi berlangsung, terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman. Kematangan kompos dapat diindikasikan dengan semakin menurunnya rasio karbon dan nitrogen. Rasio C/N rendah menunjukkan substrat yang mudah didekomposisi. Kematangan vermikompos dikatakan tercapai apabila warnanya telah menjadi coklat kehitaman. Perubahan warna berhubungan dengan perubahan bentuk media yang lebih halus dan lebih remah.
Vermikompos merupakan salah satu sumber bahan organik yang sangat bermanfaat karena kandungan unsur haranya, kapasitas memegang air juga lebih tinggi jika dibandingkan kompos konvensional. Vermikompos juga mengandung jasad renik yang lebih beragam dan lebih  banyak sehingga baik untuk tanaman. Beberapa penelitian melaporkan manfaat vermikompos mampu meningkatkan persentase perkecambahan suatu biji dan  secara komulatif memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kimia.
Berdasarkan penelitian, vermikompos yang dihasilkan, jika dibandingkan dengan kompos biasa, mengandung hara yang jauh  lebih baik dan lengkap. 

Kandungan Hara Vermikompos (berdasarkan penelitian)


H.    KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik simpulan yakni bahwa dalam proses pembuatan kompos kali ini menggunakan bantuan cacing. Tahap pelaksanaannya meliputi pemberian bubur kertas pada dasar wadah, pemberian media dalam hal ini seresah, pemberian cacing serta terakhir pemberian bubur kertas kembali dan wadah ditutup dengan karung goni. Kompos yang telah jadi ditandai dengan terbentuknya butiran-butiran berwarna kehitaman yang merupakan kotoran dari cacing tersebut yang digunakan sebagai kompos.

DAFTAR PUSTAKA


Foth, Henry D. 1994. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Jakarta : Erlangga






Rafi’I, Suryatna. 1982. Ilmu Tanah. Bandung : Angkasa

Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


Disusun oleh :  Hafidha Asni Akmalia 08304241003
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah. Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direa…