Sabtu, 06 April 2013

TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO



IMPLEMENTASI TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI
TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO
 (Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Reproduksi dan Embriologi Hewan)
Dosen Pengampu : Ciptono, MS.






Disusun Oleh :
Hafidha Asni Akmalia         (08304241002)
Pendidikan Biologi Subsidi



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO

A.    Pendahuluan
Permasalahan yang dihadapi dalam bidang peternakan di Indonesia antara lain adalah masih rendahnya produktifitas dan mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar peternakan di Indonesia masih merupakan peternakan konvensional, dimana mutu bibit, penggunaan teknologi dan keterampilan peternak relatif masih rendah.  Penerapan teknologi transfer embrio (TE) atau alih janin merupakan alternatif untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik sapi secara cepat.
Transfer Embrio (TE) merupakan generasi kedua teknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi IB hanya dapat menyebarkan bibit unggul ternak jantan, sedang pada teknologi TE dapat menyebarkan bibit unggul ternak jantan dan betina. Walaupun demikian, keuntungan utama yang dapat diperoleh adalah meningkatkan kemampuan reproduksi ternak betina unggul. Aplikasi TE memerlukan waktu dan biaya yang relatif lebih singkat dan murah dalam pembentukan mutu genetika yang dikehendaki, sehingga teknologi ini dapat mempercepat perbaikan mutu ternak dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak. Kemajuan teknologi dibidang TE menyebabkan terjadinya perubahan perdagangan ternak dari ternak hidup menjadi embrio beku. Teknologi ini juga telah memungkinkan dihasilkannya anak kembar identik atau lahirnya anak kembar dari bangsa yang berbeda dan tipe yang berbeda, menghasilkan anak yang diketahui jenis kelaminnya, menghasilkan anak dari hasil pembuahan dalam tabung (in vitro fertilization), menghasilkan hewan chimera, kebuntingan interspesies, dihasilkannya ternak transgenik, pengobatan infertilitas dan pengendalian penyakit.


Teknik TE merupakan suatu manipulasi fungsi alat reproduksi dengan perlakuan berbagai hormon superovulasi pada betina donor dan menyebabkan pematangan dan ovulasi sel telur dalam jumlah yang besar. Sel telur hasil superovulasi setelah dibuahi oleh sperma pejantan unggul dikoleksi dari donor dan dievaluasi sebelum ditransfer ke induk resipien yang selanjutnya terjadi kebuntingan dan kelahiran.
B.     Metodologi Transfer Embrio
Transfer embrio yang telah dilakukan pelaksanaanya paling banyak ternak sapi, sehingga akan dikemukakan metodologi trasfer embrio pada ternak sapi. Pelaksanaan transfer embrio merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terdiri dari : seleksi donor dan resipien, penyerentakan berahi donor dan resipien, superovulasi donor, inseminasi buatan, panen embrio, penilaian dan penyimpanan embrio, dan transfer embrio ke resipien.
1.      Seleksi Donor dan Resipien
Ada dua kriteria yang digunakan untuk seleksi donor pada program TE, yaitu :
a.       Mempunyai nilai genetik yang baik (meneruskan sifat-sifat yang diinginkan)
b.      Mempunyai sifat yang dapat memproduksi embrio yang dapat ditransfer kemampuan reproduksinya, nilai jual anak yang tinggi, dan kondisi kesehatan yang baik.
Saat seleksi genetik dilakukan, penilaian harus obyektif. Kondisi kesehatan donor harus dipelihara dengan tepat dengan dengan cara karantina, tes darah, dan vaksinasi. Pada waktu donor diseleksi , sistem reproduksi diuji dengan palpasi rektal untuk mengetahui adanya ketidaknormalan pada saluran reproduksi dan mengetahui apakah dalam keadaan tidak bunting.
Seperti pada donor, resipien yang ideal adalah sapi betina yang masih muda dan bebas penyakit, memperlihatkan fertilitas yang tinggi serta mampu melahirkan dan memelihara anak. Sapi yang akan dijadikan resipien terlebih dahulu diuji kesehatan dan keadaan reproduksinya meliputi keabnormalan pada sistem reproduksi, kebuntingan awal dan adanya penyakit. Sapi resipien juga harus dikarantina sehingga lebih muda mengamati kesehatannya, temperatur tubuh tubuh, dan beberapa infeksi yang berpengaruh besar terhadap infertilitas dan abortus.
2.      Penyerentakan Berahi Donor dan Resipien
Keberhasilan TE sangat tergantung pada sinkronisasi berahi sapi donor dan resipien. Penyerentakan berahi umumnya menggunakan Prostaglandin F2α (PGF2α). Prosedur yang digunakan adalah :
a.       Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.
b.      Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2α dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari.
Penyuntikan PGF2α pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal daripada donor. Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi hormon gonadotropin, berahi biasanya lebih cepat yaitu 36 - 60 jam setelah penyuntikan PGF2α , sedangkan pada resipien berahi biasanya timbul 48 - 96 jam setelah penyuntikan PGF2α.
3.      Superovulasi Donor
Sapi adalah ternak uniparous (ternak yang hanya menghasilkan satu keturunan dalam satu masa kebuntingan), sehingga biasanya hanya sebuah sel telur terovulasi setiap siklus berahi. Superovulasi (menghasilkan banyak sel telur yang diovulasikan) pada donor dapat dilakukan dengan pemberian obat penyubur yakni hormone gonadotropin berupa PMSG atau FSH. Standar obat yang sering digunakan untuk superovulasi adalah Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin (PMSG). Penyuntikan dengan Follicle Stimulating Hormone (FSH) menghasilkan CL dan daya hidup embrio yang lebih baik daripada perlakuan PMSG.
4.      Inseminasi Buatan
Donor yang telah dirangsang dengan superovulasi, dikawinkan umumnya dengan cara inseminasi buatan (IB) dengan memakai semen pejantan unggul. Dosis semen ditingkatkan agar jumlah sel telur yang dibuahi lebih banyak. IB yang baik dilaksanakan 6 sampai 24 jam setelah timbulnya berahi. Berahi pada sapi ditandai oleh alat kelamin luar (vagina) berwarna merah, bengkak dan keluarnya lendir jernih serta tingkah laku sapi yang menaiki sapi lain atau diam apabila dinaiki sapi lain. Pada program TE, IB dilakukan dengan dosis ganda dimana satu straw semen beku biasanya mengandung 30 juta spermatozoa unggul. Umumnya IB dilakukan dua kali dengan tenggang waktu 12 jam.
5.      Panen/ Koleksi Embrio
Panen embrio dapat dilakukan dengan dengan pembedahan atau tanpa pembedahan. Pemanenan embrio melalui pembedahan dilakukan pada ternak ternak kecil seperti kambing dan domba, sedangkan untuk ternak besar seperti sapi, kerbau dan kuda kedua cara tersebut dapat dipakai. Cara tanpa pembedahan pada ternak besar sekarang ini lebih populer, karena sarana dan pelaksanaannya lebih sederhana dan resikonya lebih kecil dibandingkan dengan cara pembedahan.
Cara memanen embrio tanpa pembedahan dilakukan dengan membilas uterus
dengan cairan phosphate buffer saline (PBS) steril yang dimasukkan dengan menggunakan kateter Foley yang dilengkapi dengan balon penyumbat melalui cervix (transcervical). Infusi cairan ini dilakukan dengan gerak gravitasi, dan bila uterus telah penuh, infus dihentikan dan cairan pembilas dikumpul melalui kateter yang sama ke dalam gelas penampung. Pembilasan dilakukan beberapa kali pada kedua tanduk uterus (uterine horn). Dengan mendiamkan cairan pembilas maka, embrio akan mengendap, dan dengan mengurangi volume cairan embrio dapat diambil dengan pipet Pasteur. Pada ternak sapi embrio berpindah dari oviduct ke uterus antara hari ke 3 sampai 5 sesudah ovulasi. Waktu untuk memanen embrio yang terbaik pada saat berumur 7 hari. Pada umur ini embrio berada pada fase blastosis belum diimplantasikan pada dinding uterus (endomentrium).
6.      Penilaian dan Penyimpanan Embrio
Seluruh embrio yang terkoleksi harus diuji secara individual di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 – 200 kali mengenai tahap perkembangan sel, bentuk dan kualitas embrio. Embrio yang terkoleksi harus mempunyai tahap perkembangan yang sama. Kualitas embrio dibedakan berdasarkan kondisinya, jumlah, kekompakan sel, degenerasi sel dan jumlah serta ukuran gelembung. Embrio yang telah diklassifikasikan disimpan dalam medium penyimpanan pada temperatur ruang (15 - 25oC) sebelum ditransplantasikan ke resipien atau dibekukan. Embrio harus disimpan dalam keadaan hidup dalam larutan nutrisi selama periode antara koleksi dari donor dan transfer ke resipien. Embrio sapi dan ternak pelihara lainnya tahan disimpan selama 2 hari pada temperatur 37oC atau dalam lemari es tanpa menurunkan daya hidupnya. Oviduct kelinci dan domba dapat pula dipakai sebagai inkubator biologis untuk penelitian. Untuk tujuan praktisnya, pembekuan dalam nitrogen cair pada temperatur -196oC merupakan pilihan utama untuk menyimpan selama waktu yang dikehendaki atau untuk ditransportasikan. Keberhasilan pembekuan embrio tanpa menurunkan daya hidupnya merupakan salah satu faktor yang mempermudah tersebar luasnya penggunaan teknologi TE ini.
Klasifikasi kualitas embrio
a.          Kualitas embrio A (sangat baik)
Stadium embrio sesuai dengan yang diantisipasi (morula, blastosis dini atau blastosis) tidak cacat, bentuk bundar spherical, ikatan blastomer erat dan kompak, bentuk simetris dan warna agak gelap.
b.         Kualitas embrio B (baik)
Stadium perkembangan 16-32 sel, tampak sedikit cacat seperti keluarnya salah satu blastomer dari ikatan dan bentuk asimetris.
c.          Kualitas embrio C (cukup).
Stadium perkembangan agak retarded satu sampai dua hari dari stadium yang diantisipasi (8-16 sel), cacat, beberapa blastomer keluar, ukuran blastomer tidak sama besar atau asimetris.
d.         Kualitas embrio D (jelek) dan tidak layak di transfer.
Embrio yang mengalami hambatan perkembangan parah (2-8 sel), embrio mengalami degenerasi seluler, ikatan-ikatan blastomer longgar sampai lepas atau ovum yang tidak terbuahi (infertlized ova).
7.      Transfer Embrio Ke Resipien
Transfer embrio dapat dilakukan dengan pembedahan dan tanpa pembedahan. Metode pembedahan cenderung lebih tinggi dan lebih konsisten tingkat kebuntingannya, tetapi lebih membutuhkan tenaga yang terampil. Cara tanpa pembedahan sekarang banyak dipakai, karena lebih cepat dan sederhana, sedangkan angka kebuntingan yang dicapai sudah sama dengan tanpa pembedahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar