Langsung ke konten utama

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


SISTEM EKSKRESI
PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE



Disusun oleh : 
Hafidha Asni Akmalia
08304241003

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah.
Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direabsorpsi secara sempurna pada kondisi normal, kecuali pada kondisi diabetes mellitus kemampuan reabsorpsi glukosa melampaui ambang batas maksimal sehingga glukosa dijumpai dalam urine.
Sekresi substansi ke tubulus berlangsung secara tranpor aktif. Kelebihan asam asam atau basa akan dikurangi dengan sekresi tubuler. Obat-obatan seperti penisilin di samping difiltrasu juga disekresikan. Urine yang normal mengandung zat-zat sebagai berikut : Urea, ammonia, keratinin dan keratin, asam urat, asam amino, klorida, sulfur, fosfat, oksalat, mineral seperti Na, K, Ca, Mg serta terdapat vitamin, hormon, dan enzim dalam jumlah relatif  kecil. Zat-zat abnormal yang ditemukan dalam urine merupakan indikator adanya kelainan fungsi ginjal, diantaranya:
1.     glukosa (diabetes mellitus)
2.     benda keton (ketosis)
3.     albumin (nephritis)
4.       sel darah merah (nephritis)
5.     urine pada kondisi tertentu juga mengandung senyawa-senyawa lain misalnya obat, hormon, dsb.
Pemeriksaan protein dalam urine dilakukan dengan menggunakan uji asam sulfosalisilat. Prinsip uji asam sulfosalisilat ini  adalah kemampuan asam kuat untuk mempresipitasikan protein.  Dengan uji asam sulfosalisilat reaksi positif ditunjukkan dengan terjadinya kekeruhan.
             Adanya protein dalam urin sering disebut dengan proteinuria (albuminuria). Proteinuria yaitu adanya albumin dan globulin dalam urin dengan konsentrasi abnormal. Proteinuria fisiologis terdapat sekitar 0,5% protein, ini dapat terjadi setelah latihan berat, setelah makan banyak protein, atau sebagai akibat gangguan sementara pada sirkulasi ginjal bila seseorang berdiri tegak. Kasus kehamilan disertai proteinuria sebesar 30-35%. Proteinuria patologis sering disebabkan oleh adanya kelainan dari organ ginjal karena sakit, misalnya nefrosklerosis, yaitu suatu bentuk vaskuler penyakit ginjal. Proteinuria pada penyakit ini meningkat dengan makin beratnya kerusakan ginjal. Proteinuria dapat juga terjadi karena keracunan tubulus ginjal oleh logam-logam berat (raksa, arsen, bismut).
Adapun pemeriksaan glukosa dalam urine dilakukan dengan menggunakan uji Fehling. Prinsip uji Fehling adalah mereduksi glukosa terhadap kuprioksida (CuSO4) sehingga terbentuk endapan berwarna merah bata (merah kekuningan). Untuk mendapatkan hasil yang baik sebelum digunakan sebaiknya urine dan reagen disaring terlebih dahulu. Adapun cara membuat reagen Fehling adalah sebagai berikut
Fehling I  : CuSO4-  kristal dilarutkan dalam 1 liter aquadest
Fehling II : Garam signette 173 gram dan NaOH 50 gram dilarutkan dalam 1 liter aquadest
Reaksi positif terhadap uji ini adalah terjadi endapan berwarna merah bata atau warna larutan berubah menjadi kuning kemerahan yang berarti bahwa di dalam urine terdapat glukosa. Endapan ini adalah endapan Cu2O berdasarkan reaksi :
RCOH + 2Cu+ 2+ +5 OH- → RCOOH + Cu2O + 3H2O
      Uji Fehling dapat digunakan untuk mengetahui adanya glukosa dalam urine. Sebagian glukosa akan direabsorsbsi dan sebagian akan larut dalam urine. Dalam urine yang mengandung glukosa dengan kadar yang cukup tinggi akan terbentuk endapan merah bata atau warna larutan menjadi kuning kemerahan setelah dilakukan uji Fehling. Kadar glukosa yang terlarut dalam urine tergantung pada kadar gula dalam darah.
Adanya glukosa dalam urine dapat mengindikasikan bahwa orang tersebut menderita diabetes, tetapi tidak semua glukosuria (adanya gula dalam urin) menunjukkan diabetes. Glukosuria dapat ditemukan pada seseorang yang mengalami strees emosi (misalnya pertandingan atletik yang sangat menegangkan). Galaktosuria dan laktosutia dapat terjadi pada ibu selama masa kehamilan, laktasi maupun menyapih. Pentosuria sementara terjadi setelah makan makanan yang mengandung gula pentosa. Benda-benda keton dapat terjadi pada saat kelaparan, diabetes, kehamilan, anestesia eter. Adanya bilirubin dan kandungan darah dapat terjadi karena  kerusakan ginjal.

DAFTAR PUSTAKA
Pearce,Evelyn.1983.Anatomi Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta : PT Gramedia
Soewolo,dkk.2005.Fisiologi Manusia.Malang : UM press

Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …