Jumat, 25 Januari 2013

PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH


MAKALAH BIOLOGI TANAH
PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN
DAN PERKEMBANGAN TANAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Tanah







Disusun Oleh :
Hafidha Asni Akmalia                08304241003
Alfiah Nurul Wahidah                 08304241019
Muhammad Radian N.A.            08304241034




JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.
Pada makalah sederhana ini akan dibahas lebih spesifik mengenai peran organisme dalam proses pembentukan dan perkembangan tanah. Sedangkan faktor-faktor lain hanya diuraikan secara singkat. Pembahasan mengenai peran organisme dalam proses pembentukan dan perkembangan tanah menjadi sangat penting mengingat peran besar organisme itu dalam proses pembentukan dan perkembangan tanah.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa saja asal bahan tanah ?
2.      Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah?
3.  Organisme apa sajakah yang berperan dalam proses pembentukan tanah dan bagaimana peranannya dalam proses pembentukan tanah?
4.    Organisme apa sajakah yang berperan dalam proses perkembangan tanah bagaimana peranannya dalam perkembangan tanah?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui asal bahan tanah.
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah.
3.      Untuk mengetahui organisme yang berperan  dalam proses pembentukan tanah dan peranannya dalam proses pembentukan tanah.
4.      Untuk mengetahui organisme yang berperan dalam proses perkembangan tanah dan peranannya dalam proses perkembangan tanah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Asal Bahan Tanah
Tanah yang terbentuk di permukaan bumi secara langsung ataupun tidak berkembang dari bahan mineral dari batu-batuan. Melalui proses pelapukan, baik secara fisis maupun kimia dibantu oleh pengaruh atmosfer maka batu-batuan berdisintegrasi dan terdisintegrasi menghasilkan bahan induk lepas dan selanjutnya di bawah pengaruh proses-proses pedogenik berkembang menjadi tanah.
Terdapat 5 faktor utama yang aktif mengendalikan pembentukan tanah.  Kelima faktor tersebut adalah iklim, jasad hidup, bahan induk, topografi dan waktu. Kelima faktor ini tidak sama pengaruhnya terhadap pembentukan tanah. Meskipun beberapa faktor diantaranya sangat berpengaruh dalam menentukan perkembangan tanah di bawah kondisi tertentu, semua faktor tersebut berhubungan erat satu sama lainnya. Joffe membagi faktor-faktor pembentuk tanah dalam dua kelompok yaitu :
1.  Faktor-faktor pasif meliputi sumber massa pembentuk tanah dan kondisi-kondisi yang mempengaruhinya. Faktor ini meliputi bahan induk, relief dan waktu.
2.      Faktor-faktor aktif meliputi agen-agen yang menyediakan energi yang bekerja di atas massa untuk meyelenggarakan proses-proses pembentukan tanah. Kelompok ini di dalamnya termasuk iklim dan jasad hidup.

B.     Peran Jasad Hidup (Organisme) dalam Pembentukan Tanah
Salah satu jasad hidup yang memegang peranan besar dalam pembentukan tanah adalah vegetasi. Berikut ini akan dikemukakan perbedaan tanah yang terbentuk akibat berlainannya jenis vegetasi yang tumbuh. Dalam hal ini akan dibahas pengaruh vegetasi hutan dan vegetasi rumput terhadap pembentukan tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di bawah kondisi lingkungan yang berbeda ternyata profil tanah padang rumput mengandung lebih banyak bahan organik, terdistribusi lebih uniform di dalam tanah (menurut kedalaman), dibandingkan dengan profil tanah hutan.
Jenis vegetasi mempengaruhi pula siklus hara. Seperti diketahui akar tanaman mengabsorpsi unsur-unsur hara dari larutan tanah dan mentransportasikannya ke daun, batang maupun pucuk tanaman. Jika bagian atas tanaman mati dan jatuh ke permukaan tanah maka dekomposisi bahan organik akan membebaskan unsur-unsur itu ke dalam larutan tanah. Kation-kation basa yang dibebaskan akan menghambat turunnya pH tanah selanjutnya kation-kation ini akan menggantikan kation-kation basa yang hilang.
Perbedaan yang mencolok terjadi dalam ion-ion dan komposisi kimia dari sisa-sisa tanaman yang berasal dari tanaman yang berbeda-beda. Bahkan diantara spesies pohon-pohonan sendiri terdapat pebedaan mencolok sehingga perbedaan-perbedaan ini menimbulkan perkembangan tanah yang berbeda pula.
Tanaman yang sering mengabsorpsi sejumlah besar dari kation-kation alkali dapat mengendalikan turunnya pH tanah. Data tabel menunjukkan bahwa pohon berkayu keras selalu menjaga penurunan pH dan % jenuh basa, dibandingkan dengan tanaman spruce jika ditanam pada tanah berbahan induk dan komposisi mineral yang sama.

Jenis tanaman
Horizon
pH
% Jenuh basa
Spruce
O2
3,45
13
A1
4,60
20
B1
4,75
27
B2
4,95
27
C1
5,05
23
Hardwood
O2
5,56
72
A1
5,05
47
B1
5,24
34
B2
5,24
34
C2
5,32
34

            Vegetasi juga mempengaruhi tingkat eluviasi dan pencucian. Di bawah kondisi yang sama dimana vegetasi hutan dan rumput terletak berdampingan dan memiliki bahan induk dan kemiringan yang berbeda, maka tanah-tanah hutan akan menunjukkan bukti-bukti besarnya eluviasi dan pencucian. Hal ini mungkin dikarenakan :
1.      Vegetasi hutan akan mengembalikan kation-kation alkali ke permukaan tanah.
2.      Air kuat sekali ditranspirasikan oleh tanaman sehingga tanah banyak kehilangan air akibatnya jika turun hujan proses pencucian selalu efektif.
3.   Air yang memasuki tanah akan lebih masam. Ion-ion hidrogen yang terlarut dari asam-asam organik di dalam horizon O yang sering terjadi di bawah pepohonan, menyebabkan pertukaran basa-basa dan tercuci ke bagian bawah tanah.
Hubungan yang dekat dengan pencucian basa-basa itu adalah translokasi liat dari tanah bagian atas ke lapisan tanah bagian bawah. Partikel-partikel liat eluviasi ke bagian tanah  dapat dibuktikan dengan tertumpuknya liat-liat pada horizon B dan terjadinya peristiwa pembentukan mantel liat (clay coating) pada pedi horizon B.
Gerakan-gerakan aktif liat pada tanah hutan didasarkan pada tingginya kandungan liat pada horizon B dan rendahnya kandungan liat pada horizon A dari tanah hutan dibandingkan tanah dengan vegetasi rumput. Jadi permeabilitas dan sifat-sifat fisis subsoil juga menunjukkan tingkat perbedaan.
Dapat ditarik dua hal yang penting untuk membedakan tanah-tanah vegetasi hutan dan rumput. Tanah dengan vegetasi hutan mempunyai kira-kira separuh dari kandungan bahan organik tanah dengan vegetasi rumput dan terdistribusi tidak merata. Tanah hutan memiliki tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna. Horizon-horison pada solum lebih asam dan % jenuh basa yang rendah serta lebih banyak liat yang dipindahkan dari horizon A ke horizon B.
Selain vegetasi, hewan juga berpengaruh dalam perkembangan tanah seperti halnya sifat fisika tanah. Beberapa makrofauna yang dapat mempengaruhi sifat fisika tanah diantaranya adalah semut, rayap, jangkrik dan cacing tanah. Koloni semut dapat menurunkan berat isi tanah sampai 21-30 % dan kelembaban tanah 2-17 %, serta meningkatkan mikroflora dan aktivitas enzim tanah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada sarang semut mempunyai kandungan bahan organik dengan kandungan N total lebih tinggi dibandingkan tanah disekitarnya. Akumulasi bahan organik dari sisa makanan dan metabolisme akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme dan enzim tanah sehingga pergerakannya akan mempengaruhi struktur dan aerasi tanah. Sedangkan cacing tanah dapat menggerakkan partikel tanah ke berbagai posisi sehingga dapat membentuk struktur tanah. Produksi kotoran dari mesofauna juga menyumbang pembentukan struktur tanah sejak partikel dan ruang-ruang yang terbentuk diantara partikel.
Jasad hidup lain yang juga berpengaruh adalah fungi. Fungi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan tanah karena ternyata berbagai jenis fungi dapat melapukkan atau mempunyai daya lapuk yang kuat terhadap sisa-sisa tanaman yang mengandung karbohidrat yang ternyata tidak mudah dilapukkan atau dihancurkan oleh bakteri. Bagi berbagai jenis fungi walaupun secara agak lambat bahan-bahan seperti selulosa atau lignin akan dapat dilapukkan dan dimanfaatkannya. Apabila fungi-fungi itu telah sampai pada sikus hidupnya yang terakhir maka bahan-bahan yang dikandungnya akan memperkaya tanah dengan bahan organik.
Secara lanjut dijelaskan bahwa segera setelah tanaman mendapatkan tempat berpijak di suatu batuan yang mengalami pelapukan atau diendapkan bahan tanah terbaru, perkembangan profil tanah sudah dimulai. Sisa-sisa tanaman dan hewan tetap berada di dalam tanah. Jika lapukan ini tercampur dengan bahan mineral oleh jasad hidup, tanda-tanda pertama pembentukan lapisan terjadi. Tanah bagian atas menjadi agak gelap warnanya daripada lapisan yang lebih dalam. Hal ini dianggap suatu kemantapan struktur yang diakibatkan oleh bahan organik. Karena itu, permukaan horizon A mulai nampak dalam tanah muda. Terdapatnya lapukan bahan organik dengan cara lain mempercepat terjadinya lapisan tanah. Asam yang dilepaskan dari dekomposisi organik meningkatkan pemecahan mineral pengandung basa yang menhasilkan unsur hara yang dapat larut dan mineral sekunder seperti lempung silikat, oksida-oksida besi dan alumunium. Hasil ini memperkaya lapisan atas dimana mereka terbentuk atau mereka bergerak ke bawah bersama air perkolasi dan akhirnya menimbun sebagai lapisan dalam tanah yang sedang berkembang pada kedalaman tertentu. Gerakan ke bawah ini dan penimbunan juga menegaskan terbentuknya lapisan atau horizon. Bersamaan dengan terjadinya perubahan kimia dan fisika, jasad hidup melangsungkan peranan yang sangat penting. Mereka akan mengikat butir tanah itu juga dengan menggali atau bergerak dalam tanah, mereka membantu mencampur bahan dan horizon yang saling berdekatan.
Secara garis besar dapat dirumuskan bahwa organisme atau jasad hidup mempengaruhi pembentukan tanah dalam hal :
1.      Mempengaruhi pelapukan dan kelarutan mineral serta menyumbang struktur dan agregat tanah.
2.      Warna tanah.
Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
3.      Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

C.    Peran Jasad Hidup (Organisme) dalam Perkembangan Tanah
Pembentukan tanah dimulai dari pelapukan batuan dan mineral. Proses pelapukan secara kimia salah satunya dilaksanakan oleh aktivitas organisme tanah. Organisme hidup mempengaruhi perkembangan tanah. Akar tumbuhan membantu pada proses pelapukan materi yaitu dengan menghancurkan materi tersebut membuat materi organik ke atas dan menambah materi organik dan nutrient di permukaan. Organisme tanah bekerja pada materi organik untuk memproduksi humus yang dapat mempengaruhi struktur dan fertilitas tanah.


BAB III
PENUTUP

  1. Simpulan
Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Asal bahan tanah terdiri atas bahan mineral dari batu-batuan yang mengalami pelapukan baik secara fisis maupun kimia.
2.      Terdapat 5 faktor utama yang aktif mengendalikan pembentukan tanah.  Kelima faktor tersebut adalah iklim, jasad hidup, bahan induk, topografi dan waktu. Joffe membagi faktor-faktor pembentuk tanah dalam dua kelompok yaitu faktor-faktor aktif dan faktor-faktor pasif.
3.      Salah satu jasad hidup (organisme) yang memegang peranan besar dalam pembentukan tanah adalah vegetasi. Selain itu, beberapa makrofauna yang dapat mempengaruhi sifat fisika tanah diantaranya adalah semut, rayap, jangkrik dan cacing tanah. Jasad hidup lain yang juga berpengaruh adalah fungi.
Secara garis besar dapat dirumuskan bahwa jasad hidup (organisme) mempengaruhi pembentukan tanah dalam hal :
a.       Mempengaruhi pelapukan dan kelarutan mineral serta menyumbang struktur dan agregat tanah.
b.      Warna tanah.
4.      Organisme hidup mempengaruhi perkembangan tanah. Akar tumbuhan membantu pada proses pelapukan materi yaitu dengan menghancurkan materi tersebut membuat materi organik ke atas dan menambah materi organik dan nutrient di permukaan. Organisme tanah bekerja pada materi organik untuk memproduksi humus yang dapat mempengaruhi struktur dan fertilitas tanah.





DAFTAR PUSTAKA

Buckman, Harry and Nylecbrady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan oleh Prof. Dr. Soegiman. Jakarta : Bharata Karya Aksara.
H. Yulipriyanto. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengelolaannya. Yogyakarta : Grha Ilmu.
Henry Foth D. 1995. Dasar-dasar Ilmu Tanah.  Yogjakarta : UGM Press.
Rio Ardi. 2009. Kajian Aktivitas Mikroorganisme Tanah pada Berbagai Kelerengan dan Kedalaman Hutan Alam (Studi Kasus di Taman Nasional Gunung Leuser, Seksi Besitang). Skripsi, tidak dipublikasikan. Universitas Sumatera Utara.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar