Langsung ke konten utama

KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA



KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kependudukan dan Lingkungan Hidup






Disusun oleh :
            Nama   : Hafidha Asni Akmalia         
            NIM    : 08304241003
            Prodi   : Pendidikan Biologi Reguler



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGIFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA2010


KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA

Keanekaragaman hayati adalah seluruh keanekaan bentuk kehidupan di bumi, beserta interaksi diantara mereka dan antara mereka dengan lingkungannya. Keanekaragaman hayati atau keragaman hayati merujuk pada keberagaman bentuk-bentuk kehidupan: tanaman yang berbeda-beda, hewan dan mikroorganisme, gen-gen yang terkandung di dalamnya, dan ekosistem yang mereka bentuk. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribuan pulau, bertempat tinggalnya flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal-usulnya yaitu bagian barat (Indo-Malayan) dan bagian timur termasuk kawasan Pasifik dan Australia. Bila kita melihat fauna khususnya di Indonesia bagian barat maka terlihat kemiripan dengan Asia. Bila kita beralih melihat fauna Indonesia timur, maka kita dapat melihat adanya kemiripan dengan Australia. Sehingga, fauna di kedua daerah bagian ini tentu saja berbeda. Contoh fauna di daerah Indonesia barat adalah harimau, gajah. Sedangkan contoh fauna di daerah Indonesia timur adalah kanguru, Quoll, cendrawasih, kasuari, merak.
Walaupun luas daratan hanya 1,3 % dari seluruh daratan bumi, tetapi Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang unik dan menakjubkan. Sekitar 10% spesies berbunga, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptil dan amphibia, 17% spesies burung serta 25% spesies ikan dunia yang dikenal manusia terdistribusi di perairan Indonesia. Dengan panjang wilayah pesisir yang mencapai 81,000 kilometer atau sekitar 14% dari panjang pantai dunia, maka ekosistem kelautan Indonesia sangat kaya dan bervariasi. Hutan bakau Indonesia sangat luas dan memiliki jenis terumbu karang yang spektakuler di Asia. Perairan pesisir Indonesia menjadi sumber makanan bagi sejumlah besar mamalia laut, reptil, ikan dan burung-burung. Wilayah pesisir yang dangkal dengan terumbu karangnya dan hutan bakau melindungi wilayah ini dari dampak pasang laut dan tsunami. Secara tradisional terumbu karang menjadi sumber makanan yang sangat penting bagi masyarakat pesisir. Untuk hutan, Indonesia diperkirakan memiliki kawasan hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik yaitu sekitar 1, 15 juta kilometer persegi dengan keanekaragaman jenis pohon yang paling beragam di dunia. Hutan tropis Indonesia kaya akan spesies palm (447 spesies, dimana 225 diantaranya tidak terdapat di bagian dunia lainnya), lebih dari 400 spesies dipterocarp yaitu jenis kayu yang bernilai sangat tinggi secara ekonomis di Asia Tenggara, dan tersebarnya sekitar 25,000 spesies tumbuhan berbunga. Karena begitu kayanya keanekaragaman hayati Indonesia, sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang mempunyai jumlah keanekaragaman hayati terbesar. Untuk pulau Jawa saja, jumlah spesies setiap 10.000 km2 antara 2000 – 3000 spesies. Sedangkan Kalimantan dan Papua mencapai lebih dari 5000 spesies. Hebatnya lagi, di Papua bermukim Parotia berlepschi, aves yang diduga telah punah keberadaanya sejak abad 19. Dan semenjak ekspedisi Foja yang menemukan burung ini, ditemukan juga spesies baru kupu-kupu, anggrek, katak dan kanguru pohon yang berwarna emas. Hal ini tentu menambah kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman, berlarinya waktu dan bertambahnya usia bumi, terdapat berbagai persoalan yang menyangkut hidup baik flora dan fauna yang ada yang nyata-nyata berubah karena ketidakstabilan alam. Permasalahan utama adalah penurunan jumlah spesies. Awal tahun 1980, beberapa ahli di dunia mulai mengetahui bahwa spesies mulai mengalami kepunahan secara global. Kepunahan ini diketahui terjadi mulai dari 65 juta tahun yang lalu pada periode Cretaceous dimana banyak spesies termasuk Dinosaurus mulai punah. Krisis yang dihadapi saat ini merupakan hasil dari: Perubahan iklim secara global, perubahan geologi secara alami, dan kejadian katalistik. Krisis saat ini merupakan akibat dari campur tangan manusia yang tidak bersahabat dengan alam. Tahun 80 an sampai 90an, ilmuwan, media, masyarakat, pemerintah di seluruh dunia mulai bekerja untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di daratan. Berbagai macam isu seperti pengrusakan hutan, pembangunan yang berlebih, explotasi yang berlebih, polusi, rusaknya habitat, invasi oleh spesies asing, menjadi fokus utama yang dibahas. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut mulai menjadi perhatian pada tahun-tahun tersebut. Karena ekosistem di lautan memiliki lebih banyak spesies dibandingkan daratan. Diperkirakan 32 sampai 33 phyla hewan yang ditemukan di pesisir dan lautan. 15 phyla dari jumlah tersebut ditemukan hanya di estuari atau di lautan.Indonesia tengah berhadapan dengan persoalan buruk tentang flora dan fauna yang ada, yaitu mengenai perusakan hutan maupun perburuan dan penyelundupan satwa liar. Sedangkan dari sisi sumber daya hayati kelautan, terdapat sejumlah faktor utama yang mengancam kelestariannya, seperti pemanfaatan berlebih (over exploitaion) akan sumber daya hayati, penggunaan teknik dan alat tangkap perikanan yang merusak lingkungan (pengunaan bom, racun, pukat dasar).
Untuk itulah, upaya-upaya pengembalian keseimbangan alam perlu dilakukan demi menjaga berlangsungnya kehidupan flora dan fauna yang terancam punah. Semisal dengan melakukan rehabilitasi daerah kritis, penghentian ilegal logging, penghentian perburuan hewan yang dilindungi dan kegitan lain yang mewujudkan terciptanya keseimbangan alam. Tentu saja dengan didukung oleh Undang-undang yang memberikan peraturan dan sanksi yang tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar dengan disengaja maupun tidak. Undang-undang harus menjamin bahwasanya segala bentuk kehidupan termasuk flora dan fauna yang ada terlindungi secara hukum. Selain itu, aparat pelaksana Undang-undang harus tegas dan konsisten terhadap tugas yang dilakukan agar ada jaminan terhadap keamanan flora dan fauna yang ada. Lebih lanjut, keanekaragaman hayati yang ada merupakan suatu anugrah yang harus dijaga yang juga dapat memberikan keuntungan yaitu pelestarian fungsi dan tata air, tata udara, tataguna tanah, juga sangat strategis bagi pengembangan pertanian, yakni untuk pangan, sandang, papan, obat-obatan  sebagai potensi ekowisata. Maka, tidak cukup dengan adanya Undang-undang dan aparat pelaksana Undang-undang saja tetapi kita sebagai rakyat Indonesia yang memiliki anugrah ini harus bersama-sama menjaga keeksisan keanekaragaman hayati Indonesia demi kepentingan bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


Disusun oleh :  Hafidha Asni Akmalia 08304241003
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah. Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direa…