Langsung ke konten utama

PENGELOLAAN TANAH BAGI PERTANIAN


PENGELOLAAN TANAH BAGI PERTANIAN
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Biologi Tanah
Dosen : Prof. H. Yulipriyanto





Disusun Oleh :

Hafidha Asni Akmalia
08304241003
Pendidikan Biologi Subsidi






JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

PENGELOLAAN TANAH BAGI PERTANIAN

 ABSTRAK

Oleh : Hafidha Asni Akmalia

Artikel bertujuan untuk mengulas dan mengupayakan pemecahan permasalahan yang ada pada sistem pertanian di Indonesia. Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dan pestisida dalam jangka waktu yang lama menimbulkan salah satu permasalahan tersebut. Dengan melihat keuntungan dari penerapan pertanian organik, maka sebuah solusi ditawarkan untuk mengubah sistem pertanian yang ada yakni melakukan pergantian pupuk dari pupuk kimia menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan. Harapannya hal ini dapat meningkatkan produktivitas lahan sehingga dampak lanjut dapat meningkatkan produksi hasil pertanian.

Kata kunci : pertanian organik, produktivitas, pupuk kimia, pestisida, unsur hara.

PENDAHULUAN
Negara tropis seperti Indonesia selalu menjadi daya tarik tersendiri. Mulai dari keanekaragaman hayatinya yang tinggi sampai hasil bumi yang melimpah. Sampai-sampai sebuah lagu menuliskannya tongkat dan batu jadi tanaman. Seolah ini mengatakan bahwa tanah di Indonesia produktif untuk ditanami tanaman budidaya hingga menghasilkan produksi yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Tak hanya isapan jempol belaka, pertanian Indonesia produktif memang benar adanya. Pada masa pemerintahan Soeharto, Indonesia pernah menjadi negara swasembada pangan. Artinya produksi beras sangat cukup bahkan dapat mengekspor beras ke luar negeri. Ini bukti bahwa kala itu, Indonesia mampu menopang kebutuhan bahan pangan pokok dalam negeri dengan usaha petani lokal tanpa menggantungkan negara lain. Namun, kesuksesan masa lalu tak diikuti sampai sekarang. Indonesia bahkan mengimpor beras dari luar negeri padahal bukan opini lagi bahwa Indonesia merupakan negara agraris. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi kita semua. Apakah memang dikarenakan sistem pengelolaannya yang bermasalah atau mungkin karena tanah yang tidak produktif lagi. Dengan demikian perlu dilakukan analisis mengenai hal ini dan diupayakan pemecahannya. Sehingga dapat meningkatkan kembali pertanian Indonesia untuk memasok kebutuhan pangan dalam negeri tanpa harus tergantung impor dari negara lain.
Tentunya banyak faktor yang berperan dalam keberhasilan produksi pertanian. Dalam artikel ini mencoba melihat masalah dalam sudut pandang tanah serta cara pengelolaannya sebagai jawaban permasalahan. Pengelolaan lahan dalam pertanian harus diupayakan tanpa menyebabkan kerusakan pada lingkungan maupun menurunkan kualitas sumber daya lahan. Justru seharusnya dapat memperbaiki struktur fisik dan kimiawi dari tanah sendiri serta memungkinkan aktivitas mikroorgansime tanah yang mendukung proses penyuburan tanah  sehingga dapat menunjang pertumbuhan tanaman budidaya dengan baik. Diharapkan dengan adanya interaksi antara komponen biotik dan abiotik dapat memberikan keseimbangan optimal bagi ketersediaan hara dalam tanah, yang selanjutnya menjamin keberlangsungan produktivitas lahan, dan keberhasilan usaha tani.

PEMBAHASAN
Negara-negara produsen beras, tak terkecuali Indonesia, diketahui terjadi deteriorasi kesuburan tanah yang dikenal sebagai tanah sakit (soil sickness) yang disebabkan karena pengelolaan lahan pertanian yang kurang baik. (Suhartini, dkk, 2006 : 2). Ketergantungan petani lokal akan bahan agrokimia yakni pupuk kimia dan pestisida menjadi bumerang bagi usaha tani. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida dalam jangka yang lama justru semakin mengurangi produktivitas lahan pertanian. Dengan akumulasi senyawa kimia dalam tanah menyebabkan tanah menjadi keras dan kandungan hara menipis. Sehingga tak heran jika petani kita selalu membutuhkan pupuk kimia dalam jumlah banyak untuk menambah unsur hara dalam tanah. Sementara pestisida juga berefek kurang baik bagi lahan diantaranya zat racun yang diperuntukkan bagi hama dapat pula membunuh serangga atau mikroorganisme bukan target sehingga mengurangi salah satu komponen biotik yang berperan bagi kesuburan tanah. Akibatnya terjadi gangguan dalam interaksi komponen biotik dan abiotik yang menyebabkan menurunnya produktivitas tanah. Efek lanjut yakni pestisida dapat membuat hama menjadi resisten sehingga tidak mati ketika dilakukan penyemprotan dengan pestisida. Tidak hanya pestisida, petani juga kerap menggunakan herbisida untuk memberantas gulma. Data dari  Kapuslitbangtanak menyatakan bahwa di propinsi Jawa Tengah dan DIY saja ditemukan residu herbisida pada tanah sawah di Rembang, Klaten, Bantul, Cilacap, Kebumen, Banyumas, Brebes, dan Pemalang, berupa: MCPA (0,0005 - 0,0285 ppm), 2,4-0 (0,0016 - 0,0095 ppm), metil metsulfuron (0,0010 - 0,0046 ppm), parakuat (0,0128 - 0,0216 ppm), dan glifosat (0,0004 - 0,0125 ppm). Saat ini konsentrasinya masih di bawah batas maksimum residu (BMR), tetapi akan terus meningkat bila penggunaan herbisida tidak terkendali. Tentunya bahan kimia ini juga dapat berefek buruk bagi tanaman sendiri karena dapat terakumulasi di dalamnya.
Selain kerugian di sisi menurunnya produktivitas lahan, kerugian juga menyangkut modal para petani sendiri. Dengan kebutuhan pupuk kimia dalam jumlah besar serta pembelian pestisida yang tidak murah maka keuntungan hasil pertanian tidak dapat menutup kerugian biaya produksi keseluruhan. Sehingga dapat dimaklumi bahwa kesejahteraan sebagian besar petani kita masih kurang. Seluruh kerja keras dan kesabaran dalam mengolah tanah pertanian belum sepenuhnya dapat dinikmati karena mereka justru rugi ketika bertani. Maka dari itu perlu dilakukan perbaikan pada sistem pengelolaan tanah pertanian sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanah tanpa pemborosan menggunakan pupuk kimia.
Salah satu upaya pengelolaan lahan pertanian yakni dengan menerapkan sistem pertanian organik. Melalui penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan maka diharapkan dapat menyuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Salah satu pupuk organik yaitu pupuk hijau yang berasal dari tanaman legume. Tanaman jenis ini mampu memperkaya unsur nitrogen dalam tanah karena kegiatan simbiosisnya dengan bakteri Rhizobium. Dengan penanaman tanaman legume mendampingi tanaman pokok maka nitrogen yang diperoleh dari tanaman pokok berasal dari tanah yang kaya nitrogen akibat penanaman tanaman legume. Penggunaan tanaman kacang-kacangan sebagai pupuk hijau banyak dilakukan mengingat hasilnya yang cukup banyak yaitu :
·         Menambah nitrogen ke dalam tanah secara biologis.
·         Mempertahankan sifat fisik tanah akibat banyaknya jatuhan daun dan batang kacang-kacangan yang ditanamkan.
·         Beberapa jenis Rhizobium mempunyai kemampuan pula untuk mengurai residu pestisida.
(H.Yulipriyanto, 2010 : 139).
Selain sisa-sisa tanaman yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau, tanaman legume sendiri apabila ditanam bersama tanaman budidaya pokok juga dapat bermanfaat bagi tanaman pokok tersebut. Pola penanaman ini yang disebut dengan tumpang sari dimana selain menanam tanaman pokok juga menanam tanaman lain yang dapat memberikan keuntungan baik bagi tanaman pokok tersebut ataupun dapat diambil sebagai komoditi tambahan. Jadi, disini petani mendapat keuntungan ganda dari penanaman model ini. Setelah tanaman pokok dipanen, maka tanaman legume yang masih ada dapat diambil pula manfaatnya misalnya bila tanaman legume yang ditanam adalah kacang panjang yang dapat diambil buahnya atau bagian tanaman seperti batangnya digunakan sebagai pakan ternak. Namun, dengan mempertimbangkan manfaat terbesar tanaman legume yakni kacang panjang ini bagi produktivitas lahan adalah memperkaya unsur nitrogen, maka sebaiknya tidak semua bagian tanaman legume diambil. Cukup bagian buah saja yang diambil sementara bagian akar dan batangnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau yang merupakan bagian dari usaha pertanian organik. Satu hal yang dapat ditarik dari ilustrasi ini bahwa ada upaya menjaga unsur hara nitrogen dalam tanah bila tanaman kacang panjang tidak seluruhnya dimanfaatkan untuk kepentingan komersil. Seandainya seluruh bagian tanaman kacang panjang diambil tanpa ada yang kembali ke tanah maka tentu saja unsur nitrogen tidak lagi disuplai oleh tanaman legume itu sendiri. Memang dalam hal ini sangat sulit untuk tidak melihat tanaman kacang panjang yang memiliki banyak manfaat pada bagian tubuhnya. Buah yang dapat dipetik, batang dan akar yang dapat dijadikan sebagai pakan ternak merupakan godaan terbesar untuk tidak mengacuhkan tanaman ini. Seyogyanya, masih ada tanaman legume lain seperti tanaman orok-orok yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti tanaman kacang panjang. Dengan menggunakan tanaman orok-orok maka tanaman ini seperti halnya tanaman legume lain yang dapat menambah nitrogen secara biologis. Tanaman orok-orok tidak begitu memiliki nilai jual, sehingga petani tentu tidak berminat untuk mengambil seluruh bagian tanaman ini. Maka, pemanfaatan tanaman orok-orok mau tidak mau dijadikan sebagai pupuk hijau. Artinya, suplai nitrogen masih dapat diperoleh dari tanaman legume ini. Sementara itu, penggunaan pestisida sebisa mungkin jangan berlebihan bahkan apabila perlu diupayakan alternatif penggantinya yakni dengan menggunakan predator alami. Walaupun cara ini memakan waktu yang lebih lama namun menilik dari keamanannya bagi tanah sendiri sangat diperlukan.  
Pupuk organik dapat meningkatkan meningkatkan kualitas lahan. Tanah menjadi mudah diolah dan gembur serta kedalaman lapis olahnya semakin dalam. Bila disertai dengan menghindari penggunaan pestisida maka akan meningkatkan biodiversitas. Hal yang dirasakan petani adalah meningkatnya jumlah cacing tanah dalam lahan. Ini mengisyaratkan bahwa keberadaan cacing tanah dalam tanah beserta pupuk hijau dapat membantu menurunkan berat volume dan berat jenis tanah yang selanjutnya meningkatkan pori-pori tanah. Sehingga, manfaat penerapan pertanian organik dan keterkaitannya dengan pengolahan tanah sangat terasa besarnya. Selain pengelolaan lahan yang ramah lingkungan juga menghemat biaya produksi yang dikeluarkan untuk pertanian dengan tidak membeli pupuk kimia maupun pestisida yang cukup mahal. Maka diharapkan dengan biaya produksi yang dihemat, para petani dapat memaksimalkan modal untuk kepentingan seperti pemeliharaan tanaman atau drainase yang baik sehingga dapat menghasilkan produksi tanaman yang diinginkan. Artinya, petani tidak rugi karena biaya produksi akan tertutup dengan keuntungan yang diperoleh bila menerapkan pertanian organik. 

SIMPULAN
Pertanian organik menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan penurunan produktivitas lahan pertanian yang diakibatkan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Dengan mengganti pupuk kimia menjadi pupuk organik dalam hal ini pupuk hijau bagi usaha pertanian, maka dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Dimulai dari perbaikan kualitas tanah hingga suplai hara bagi tanaman maka hasil pertanian pun meningkat. Maka, tujuan pertanian organik selain bagi produksi hasil pertanian juga untuk memperbaiki kualitas tanah sendiri sehingga sifatnya berkelanjutan bagi masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Abdurrachman. 2003. Degradasi Tanah Pertanian Indonesia Tanggung Jawab Siapa? Kapuslitbangtanak.
Suhartini, dkk. (2006). Sikap dan Perilaku Berkelanjutan Pada Petani Organik dan Non Organik di Kabupaten Sragen dan Implikasinya Terhadap Kualitas Lahan, Biodiversitas, dan Produktivitas Tanaman Padi. Jurnal Agros 8 (1), 90-102.
Yulipriyanto, Hieronymus. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengelolaannya. Yogyakarta : Graha Ilmu.




Komentar

  1. Makasih ya artikelnya,,,,,,,,,,,
    kunjung balik ya http://endrymesuji.blogspot.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


Disusun oleh :  Hafidha Asni Akmalia 08304241003
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah. Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direa…