Langsung ke konten utama

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROMETRI


LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROTEKNIK DAN TEKNIK LABORATORIUM

MIKROMETRI
                                                                           



Disusun oleh :
1.      Zulqarnain Assiddiqqi      (08304241001)
2.      Shaim Basyari                  (08304241002)
3.      Hafidha Asni Akmalia      (08304241003)
4.      Febrianawati Yusup         (08304241004)
5.      Dian Fita Lestari               (08304241005)



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


MIKROMETRI

A.    TUJUAN
Mengukur diameter serbuk sari.
B.     DASAR TEORI
Mikroskop merupakan alat bantu penglihatan untuk melihat benda-benda yang sangat kecil yang tak mampu dilihat oleh mata dengan jelas. Mikroskop cahaya merupakan mikroskop yang paling sederhana dimana dalam penggunaannya membutuhkan cahaya agar spesimen yang akan dilihat dapat dilihat dengan jelas. Mikroskop cahaya terbaik mampu memperbesar benda 2000 kali. Saat ahli biologi melihat sebuah spesimen lewat mikroskop cahaya, bukan hanya mereka tertarik dengan bentuk dan detailnya, namun juga ukurannya. Satuan pengukuran yang dipakai mikroskop cahaya adalah mikron. Bila dihubungkan dengan satuan lainnya, maka satu mikron sama dengan satu perseribu milimeter, atau sama dengan seribu nanometer, atau sama dengan 10 ribu angstrom.

Mikroskop cahaya dan bagian-bagiannya.
Saat memakai mikroskop cahaya, ukuran spesimen dapat diperkirakan. Dengan lensa objektif berkekuatan rendah, diameter bidang dinyatakan dengan bilangan, biasanya 1.6 mm. Ini artinya diameter bidang tersebut adalah 1600 mikron. Pada objektif berkekuatan tinggi, diameter bidang biasanya 0.4 mm, sehingga diameter bidang tersebut 400 mikron, seperempat panjang bidang objektif lemah. Karenanya, bila spesimen berukuran separuh diameter bidang objektif lemah, ia pastinya ½ dari 1600 mikron, yaitu 800 mikron. Tipe pengukuran ini hanyalah pendekatan.
Untuk pengukuran yang lebih teliti, dipakai alat bantu pengukuran yang disebut dengan mikrometer. Mikrometer merupakan kaca berskala dimana dalam penggunaannya ada 2 jenis mikrometer yaitu mikrometer okuler dan mikrometer objektif.. Mikrometer okuler dipasang pada lensa okuler mikroskop, sedangkan mikrometer objektif berbentuk slide yang ditempatkan pada meja preparat mikroskop. Pada prinsipnya skala okuler adalah skala yang terdiri dari 1-100 dimana jarak antara garis sama tetapi tidak diketahui nilainya. Sedangkan pada skala objektif adalah skala yang terdiri dari 1-100 dimana jarak antara garis memiliki nilai 0,01 mm atau10 μm. Skala okuler tidak berubah ukurannya walaupun pembesaran diubah sedangkan skala objektif  akan berubah ukurannya apabila pembesaran diubah. Oleh karena itu, kalibrasi dilakukan agar skala okuler memiliki nilai dari perbandingan skala objektif dengan skala okuler di setiap pembesaran. Mikrometer okuler sekarang dikalibrasi dengan standar dan dapat dipakai untuk mengukur secara teliti sebuah spesimen daripada sekedar perkiraan.


Mikrometer okuler



Mikrometer objektif

Kalibrasi dilakukan dengan menghimpitkan skala mikrometer objektif dan okuler pada perbesaran yang diinginkan. Skala ke nol (garis pertama) kedua mikrometer disimpulkan menjadi 1 garis kemudian dilihat pada skala ke berapa kedua jenis mikrometer tersebut bertemu/berhimpit kembali. Dari hasil tersebut dapat diketahui satu satuan panjang pada skala mikrometer okuler itu berdasarkan beberapa jumlah skala kecil mikrometer objektif yang berada di antara garis yang berhimpit tadi.



Contoh :
Jika skala ke 0 mikrometer okuler berhimpit dengan skala ke 0 mikrometer objektif lalu skala ke 13 mikrometer okuler berhimpit dengan skala ke 2 mikrometer objektif maka berapa 1 skala okuler?


Cara kalibrasi :



Kalibrasi dimulai dengan menyejajarkan antara mikrometer okuler dengan micrometer objektif dengan cara memutar bagian atas dari lensa okuler.
C.     ALAT DAN BAHAN
Alat :
·         Mikroskop
·         Mikrometer
Bahan :
·         Objek (serbuk sari yang telah diawetkan)
D.    LANGKAH KERJA
1.      Mencari nilai skala okuler mikrometer :
a.       Menempatkan okuler mikrometer di bagian okuler dengan membuka bagian atas tabung lensa okuler. Mengamati melalui lensa okuler apakah bayangan-bayangan micrometer sudah jelas. Mengatur sedemikian rupa lensa atas pada okuler sehingga bayangan skala jelas.
b.      Menempatkan objek mikrometer di bawah lensa objektif. Kemudian mencari bayangan skala objek mikrometer dan okuler mikrometer yang paling jelas.
c.       Menyejajarkan kedua bayangan skala (okuler mkcrometer dan objek mikrometer) dengan memutar bagian atas lensa okuler. Selanjutnya meletakkan titik 0 dari kedua skala  sama tinggi dengan menggerakkan objek mikrometer.
d.      Mencari bayangan garis skala kedua mikrometer yang berhimpit (sama tinggi). Menghitung jumlah bagian skala pada masing-masing mikrometer dari titik 0 sampai garis skala yang berhimpit.
e.       Menghitung nilai skala okuler mikrometer dimana jarak sesungguhnya antara 2 garis skala objek mikrometer diketahui (tertulis pada objek mikrometer).
2.      Mengukur diameter serbuk sari.
a.       Setelah mengetahui nilai skala okuler mikrometer maka mengambil objek mikrometer dan menggantinya dengan preparat awetan serbuk sari yang akan diukur. Okuler  mikrometer tetap di tempatnya semula.
b.      Mencari bayangan preparat awetan serbuk sari. Lensa objektif yang akan digunakan pada waktu mengukur preparat awetan serbuk sari harus sama dengan lensa objektif yang digunakan saat menghitung nilai skala okuler mikrometer.
c.       Menempatkan bayangan skala okuler mikrometer pada bayangan preparat awetan serbuk sari sedemikian rupa sehingga arah bayangan skala itu sesuai dengan arah diameter preparat awetan serbuk sari yang diukur. Jumlah bagian skala dikalikan dengan nilai skala okuler adalah diameter yang dicari.
E.     HASIL PENGAMATAN
Serbuk sari bunga Jatropha integerrima

F.      PEMBAHASAN
Pada praktikum berjudul mikrometri ini memiliki tujuan yaitu mengukur panjang atau lebar sel atau bagian sel. Adapun objek yang akan kami ukur yaitu diameter serbuk sari  bunga Jatropha integerrima yang sebelumnya telah dibuat preparat semi permanen.
Pengukuran diameter serbuk sari ini menggunakan mikrometer sebagai alat bantu pengukuran karena serbuk sari berukuran sangat kecil dan membutuhkan alat ukur dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Satuan pengukuran yang diperoleh yaitu dalam satuan μm. Mikrometer yang dimaksud adalah mikrometer okuler yang diletakkan pada lensa okuler mikroskop dimana sebelumnya dilakukan kalibrasi dengan mikrometer objektif  untuk memperoleh nilai perbandingan antara skala objektif dengan skala okuler yang merupakan patokan bagi standar pengukuran.
Langkah pertama sebelum pengukuran diameter yaitu melakukan kalibrasi. Mikrometer okuler diletakkan pada lensa okuler dengan cara membuka tabung lensa okuler. Kemudian mencari bayangan mikrometer okuler hingga skalanya dapat terlihat jelas. Selanjutnya meletakkan mikrometer objektif di bawah lensa objektif dan seperti yang dilakukan pada mikrometer okuler, bayangan skala pada mikrometer juga dicari hingga terlihat jelas. Kalibrasi dimulai dengan menyejajarkan kedua bayangan skala dan menghimpitkan kedua angka 0 pada masing-masing skala mikrometer. Lalu mencari bayangan garis skala kedua mikrometer yang berhimpit serta menghitung jumlah bagian skala pada masing-masing mikrometer dari titik 0 sampai garis skala yang berhimpit. Dengan cara ini nilai skala mikrometer okuler dapat diketahui. Setelah melakukan kalibrasi maka nilai skala mikrometer okuler yang kami peroleh adalah :
·         Jumlah bagian skala mikrometer okuler yang berhimpit : 30
·         Jumlah bagian skala mikrometer objektif yang berhimpit :
→ 30 x 0,01 mm
→ 30 x 10 µm
→ 300 µm
·         Jadi, nilai skala okuler adalah :
30 skala okuler = 30 skala objektif
   = 300 µm
1 skala okuler   =  300 : 30
                          =   10 µm
Selanjutnya melakukan pengukuran dengan menggunakan mikrometer okuler terhadap diameter serbuk sari bunga Jatropha integerrima. Bayangan skala mikrometer okuler ditempatkan sedemikian rupa sehingga arah bayangan skala itu sesuai dengan arah diameter preparat awetan serbuk sari yang akan diukur. Selanjutnya mencari diameter serbuk sari dengan cara mengalikan jumlah bagian skala dengan nilai skala okuler yang telah diperoleh.
Diameter         = 10 x 5
           = 50  µm
Jadi, diameter serbuk sari Jatropha integerrima yang diperoleh adalah 50 µm. Berdasarkan ukuran ini, diameter serbuk sari bunga Jatropha integerrima cukup kecil bila kami bandingkan dengan diameter serbuk sari miliki kelompok lain.
G.    SIMPULAN
Dari hasil praktikum ini didapatkan diameter serbuk sari Jatropha integerrima yaitu 50 µm dengan menggunakan mikrometer sebagai alat ukur.
H.    DISKUSI
1.      Mengapa lensa objektif yang kita gunakan pada waktu kita mengukur sel/bagian sel harus sama dengan lensa objektif yang kita gunakan pada waktu menghitung nilai skala okuler mikrometer?
Jawab : Karena apabila lensa objektif yang digunakan untuk mengukur bagian sel tidak sama dengan yang digunakan sewaktu menghitung nilai skala okuler mikrometer artinya mikrometer objektif yang diletakkan di bawah lensa objektif akan memiliki nilai yang berbeda sehingga nilai skala mikrometer okuler yang digunakan juga tidak sesuai.


DAFTAR PUSTAKA
Ratnawati,dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Mikroteknik. Yogyakarta : FMIPA UNY.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH

MAKALAH BIOLOGI TANAH PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Tanah






Disusun Oleh : Hafidha Asni Akmalia                08304241003 Alfiah Nurul Wahidah                 08304241019 Muhammad Radian N.A.            08304241034



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yan…