Langsung ke konten utama

KECERDASAN INTELEKTUAL


TUGAS PRAKTIKUM
METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Biologi

KECERDASAN INTELEKTUAL






Disusun oleh :
1.      Zulqarnain Assiddiqqi              (08304241001)
2.      Shaim Basyari                         (08304241002)
3.      Hafidha Asni Akmalia              (08304241003)
4.      Febrianawati Yusup                (08304241004)



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010

Pengertian Kecerdasan (Intelegensi
                   Intelektual merupakan kecerdasan intelegensia yang diuji dari hasil tes kemampuan dalam menyelesaikan suatu problem yang biasanya diaplikasikan dalam angka-angka dan sejenisnya yang dilakukan dalam dunia pendidikan dan hasil dari tes itu akan diberi nilai, maka nilai itulah yang dijadikan ukuran kemampuan intelektual seseorang. Inteligensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektualnya (Syamsu Yusuf, 2007, hal. 106). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam mengartikan inteligensi (kecerdasan) ini para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantara pengertian itu adalah :
1.      C. P. Chaplin (1975) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan mengahadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif.
2.      Anita E. Woolfolk (1995) mengemukakan bahwa inteligensi itu meliputii tiga pengertian yaitu : kemampuan untuk belajar, keseluruhan pengetahuan yang diperoleh dan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya diungkapkan bahwa inteligensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.
3.      Binet (Sumadi S,. 1984) menyatakan bahwa sifat hakikat inteligensi itu ada tiga macam, yaitu :
a.       kecerdasan untuk menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu. Semakin cerdas seseorang, akan semakin cakap dia mengkondisikan tujuan, mempunyai inisiatif sendiri tidak menunggu perintah saja.
b.      kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
c.       kemampuan untuk melakukan otokritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah pernah dibuatnya.
4.      Raymon Cattel dkk. (Kimble dll., 1980) mengklarifikasikan inteligensi ke dalam dua kategori, yaitu :
a.       “Fluid Inteligence”, yaitu kemampuan analisis kognitif yang relatif tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.
b.      “Crystallized Inteligence”, yaitu ketrampilan-ketrampilan atau kemampuan nalar (berpikir) yang dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.
5.      Menurut Wechsler (dalam : Monks, Knoers, 2002 , hal. 237 ) “ Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat bertindak terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien

                         Intelegensi orang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, antara lain adalah (Djali, 2008) :
a.       Faktor bawaan dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir.
b.     Faktor minat dan bawaan yang khas, dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar sehingga apa yang diminati manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih baik giat dan lebih baik.
c.      Faktor pembentukan dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Dapat dibedakan antara pembentukan dengan sengaja atau bukan, seperti pembentukan yang tidak disengaja seperti pengaruh lingkungan sekitar.
d.  Faktor kematangan, dimana tiap organ tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis dapat dikatakan telah matang jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
e.     Faktor kebebasan yang berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Kecerdasan Intelektual dan Pembimbinganny
                               Menurut Syamsu Yusuf ( 2007 ; 111-113 ) dijelaskan bahwa uraian tentang inteligensi (kecerdasan) dalam ukuran kemampuan intelektual atau tataran kognitif terhadap sampel yang mewakili populasinya, dikembangan suatu sistem norma atau ukuran kecerdasan dengan sebaran sebagai-berikut :
IQ (Intelligence Quotion)
Klasifikasi :
140 - ke atas         : Jenius
130 – 139             : Sangat cerdas
120 – 129             : Cerdas
110 – 119             : Di atas normal
90 – 109               : Normal
80 – 89                 : Di bawah normal
70 – 79                 : Bodoh
50 – 69                 : Terbelakang ( Imbecile / dan Idiot )
49 – ke bawah      : Terbelakang ( Imbecile / dan Idiot )

a.       Idiot IQ : 0 – 29
Merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Tidak dapat berbicara ( hanya dapat mengucapkan kata beberapa saja ). Biasanya tidak dapat mengurus dirinya sendiri seperti : mandi, berpakaian, makan dan lain sebagainya. Jadi dalam proses pembimbingannya harus di urus oleh orang lain. Anak seperti ini tinggal di tempat tidur seumur hidupnya. Rata-rata perkembangan inteligensinya sama dengan anak norma umur 2 tahun. Badannya kurang tahan terhadap penyakit sehingga biasanya umurnya tidak lama. Baik di sekolah biasa maupun sekolah luar biasa (SLB) anak ini tidak ditemui.
b.      Imbecile, IQ : 30 – 40
Kelompok ini setingkat lebih tinggi dari idiot. Ia dapat belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang teliti. Pada kelompok ini dapat diberikan latihan-latihan ringan, tetapi dalam kehidupannya tetap dalam pengawasan orang lain, tidak dapat mandiri. Kecerdasannya sama dengan anak normal umur 3 – 7 tahun. Kelompok ini tidak dapat di didik di sekolah biasa.
c.       Debil atau Moron (mentally handicapped/mentally retarted), IQ : 50 – 69
Kelompok ini sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menulis dan membuat perhitungan-perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Banyak anak-anak kelompok ini dibimbing di sekolah-sekolah luas biasa (SLB)
d.      Kelompok bodoh (dull/bordeline), IQ : 70 – 79
Kelompok ini berada di atas kelompok terbelakang dan di bawah kelompok normal. Dalam pembimbingan anak-anak ini secara bersusah payah dengan beberapa hambatan, dapat melaksanakan sekolah lanjutan tingkat pertama ( SLTP ) tetapi sukar sekali untuk dapat menyelesaikan di akhir-akhir kelasnya.
e.       Normal rendah (below average), IQ : 80 – 89
Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang pada tingkat terbawah, mereka agak lambat dalam belajarnya. Dalam pembimbingannya merteka dapat menyelesaikan sekolahnya di tingkat SLTP tetapi agak kesulitan untuk menyelesaikan pendidikan ke jenjang SLTA.
f.       Normal sedang, IQ : 90 – 109
Kelompok ini termasuk kelompok normal atau rata-rata. Mereka termasuk kelompok terbesar populasi penduduknya. 
g.      Normal tinggi (above average), IQ : 110 – 119
Kelompok ini termasuk kelompok individu yang normal 
h.      Cerdas (superior), IQ : 120 – 129
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah / akademik.
i.        Sangat cerdas (very superior / gifted), IQ : 130 – 139
Anak-anak pada kelompok ini lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan tentang bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang sangat luas dan cepat memahami pengertian yang asbtrak. Pada umumnya faktor kesehatan, kekuatan dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.
j.        Genius IQ : 140 – ke atas
Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa. Mereka biasanya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun tidak sekolah. Kelompok ini berada dalam semua ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi, baik laki maupun perempuan.
Terkait dengan kecerdasan intelektual peserta didik tersebut maka dalam pembimbingan di sekolah tentunya harus diperhatikan / disesuaikan dengan tingkat IQ masing-masing invividu. Karena dalam hal ini akan berpengaruh terhadap kemampuan dan keberhasilan peserta didik tersebut dalam melaksanakan tugas perkembangan pribadinya. Pembimbingan tidak hanya diberikan kepada mereka yang memang mempunyai IQ lemah, tetapi yang cerdas pun perlu bimbingan. Mereka yang mempunyai IQ tinggi hanya akan berhasil dan sukses dalam hidupnya (menjalankan tugas perkembangannya) apabila didorong oleh aspek-aspek yang lain. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Terman (dalam : Monks, Knoers, 2002 , hal. 247), bahwa kemampuan intelektual yang tinggi hanya bisa menghasilkan prestasi yang istimewa bila bekerja sama dengan keteguhan, kepercayaan diri serta lingkungan yang positif. Jadi dalam hal ini perlu mensinergikan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. Sudah selayaknya mulai ditinggalkan paradigma lama yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai IQ tinggi ( cerdas ) pasti akan suskses hidupnya, sukses dalam menjalankan tugas-tugas perkembangan hidupnya.. Apalagi adanya pengaruh budaya yang semakin komplek, pengaruh kehidupan sosial masyarakat yang semakin beragam. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa cerdas merupakan faktor / modal yang sangat penting.


ANALISIS

Kecerdasan adalah sesuatu yang menjadi modal kuat dalam kehidupan seperti dalam upaya mencapai kesuksesan hidup. Namun, dari uraian di atas disebutkan bahwa kecerdasan intelektual akan memberikan kontribusi yang maksimal apabila didukung oleh aspek-aspek yang lain. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman. Pada tahun 1995, Daniel Goleman mempopulerkan suatu konsep baru dalam bidang psikologi yang disebut dengan Emotional Intelligence. Menurut Goleman (1996) kecerdasan intelektual (IQ) bila tidak disertai dengan pengolahan emosi yang baik tidak akan menghasilkan seseorang sukses dalam hidupnya. Peranan IQ hanyalah sekitar 20% untuk menopang kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% lainnya ditentukan oleh faktor yang lain. Selanjutnya ia mengatakan bahwa pentingnya pengelolaan emosi bagi manusia dalam pengambilan keputusan bertindak adalah sama pentingnya, bahkan seringkali lebih penting daripada nalar, karena menurutnya, kecerdasan intelektual tidak berarti apa-apa bila emosi yang berkuasa.
Sementara itu, pada pertengahan tahun 2000, dunia psikologi dikejutkan kembali oleh adanya penemuan baru yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall tentang kecerdasan manusia yang berhubungan dengan spiritual, yang dikenal dengan sebutan kecerdasan spiritual. Selanjutnya Zohar & Marshal (2000) mengatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dalam kehidupan. Penelitian tentang kecerdasan spiritual dilakukan oleh Abror (2004) yang menemukan adanya hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan kinerja.
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual akan memberikan dampak yang positif  bagi pribadi seseorang. Hubungan yang erat dan saling mengisi diantara ketiga aspek tersebut akan mengarahkan bagaimana tindakan yang harus diambil dalam menangani suatu persoalan hidup dengan cermat. Sehingga, integrasi diantara ketiganya sangat penting bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini sebaik mungkin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


Disusun oleh :  Hafidha Asni Akmalia 08304241003
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah. Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direa…