Langsung ke konten utama

PEMBUATAN PREPARAT SERBUK SARI




LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROTEKNIK DAN TEKNIK LABORATORIUM

PEMBUATAN PREPARAT SERBUK SARI




Disusun oleh :
1.      Zulqarnain Assiddiqqi      (08304241001)
2.      Shaim Basyari                  (08304241002)
3.      Hafidha Asni Akmalia      (08304241003)
4.      Febrianawati Yusup         (08304241004)
5.      Dian Fita Lestari              (08304241005)



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

PEMBUATAN PREPARAT SERBUK SARI

A.    TUJUAN.
Mengetahui cara preparasi serbuk sari.
B.     DASAR TEORI
Walker (1999) menyatakan bahwa serbuk sari merupakan alat penyebaran dan perbanyakan generatif dari tumbuhan berbunga. Secara sitologi, serbuk sari merupakan sel dengan tiga nukleus, yang masing-masing dinamakan inti vegetatif, inti generatif I, dan inti generatif II. Sel dalam serbuk sari dilindungi oleh dua lapisan (disebut intine untuk yang di dalam dan exine yang di bagian luar), untuk mencegahnya mengalami dehidrasi.
Ilmu tentang polen dan spora disebut palinologi yang umumnya lebih terfokus pada struktur dinding (Erdtman, 1969). Daya tahan polen sangat tinggi karena memiliki eksin yang keras dan secara kimia tidak mudah hancur oleh aktifitas mikroba, tingkat salinitas, kondisi basah, oksigen rendah, dan kekeringan (Moore et al., 1991). Selain ukuran dan bentuk, ciri polen adalah tipe, jumlah dan posisi apertur serta arsitektur dinding.
Ciri morfologi polen tersebut semakin meningkat penggunaannya dalam taksonomi, terutama untuk mengoreksi kembali hubungan kekerabatan antara satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya dalam kelompok - kelompok takson (Erdtman, 1969). Menurut Kapp (1969), penyusunan kunci identifikasi polen didasarkan pada ciri morfologi polen yang tampak dan tidak didasarkan pada kelompok taksonomi.
Berbagai variasi polen dapat digunakan untuk mengetahui arah evolusi suatu tumbuhan (Moore etal., 1991), sifat polen yang mudah melekat pada berbagai benda membantu dalam penyelidikan kriminal, sedangkan kandungan protein, karbohidrat dan zat-zat lainnya yang tinggi mempengaruhi kualitas madu (Bhojwani dan Bhatnagar, 1978). Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa polen adalah penyebab utama alergi pernafasan. Oleh karena itu data tentang polen diperlukan untuk menunjang berbagai disiplin ilmu diantaranya taksonomi, sejarah vegetasi dan evolusi flora (Moore etal., 1991). Selain itu juga dapat menunjang beberapa data antara lain kriminologi, medis dan melittopalinologi yaitu studi kandungan polen dalam madu (Bhojwani dan Bhatnagar, 1978).
Suatu larutan fikasasi (fiksatif) yang baik akan mematikan serta mengawetkan semua isi sel dalam ukuran serta posisi semula dalam sel. Akan tetapi bila ditangani secara kasar, bahan akan rusak sebelum dimasukkan ke dalam larutan pengawet (Sugiharto, 1989). Pembuatan preparat serbuk sari dengan fiksatif yang tepat akan memberikan hasil yang baik dimana serbuk sari akan berada dalam kondisi yang baik seperti sebelum pengawetan.
C.     ALAT DAN BAHAN.
Alat :
·         Gelas benda dan gelas penutup.
·         Sentrifuse dan tabung sentrifuse.
·         Waterbath (penangas air).
·         Peralatan gelas.
·         Lampu spiritus.
·         Mikroskop cahaya.
Bahan :
·         Serbuk sari bunga Jatropha integerrima.
·         Asam asetat glacial
·         Asam sulfat pekat
·         Aquadest
·         Gliserin jeli
·         Potongan paraffin
·         Safranin 1 %
D.    METODE.
Asetolisis.
E.     LANGKAH KERJA.
  1.  Memasukkan serbuk sari atau antera yang sudah membuka ke dalam tabung yang sudah berisi dengan asam asetat glasial dan biarkan selama 24 jam. 
  2.  Mengaduk bahan hingga asam asetat glasial menjadi keruh kemudian memindahkannya ke dalam tabung sentrifuse, lalu bahan disentrifuse. 
  3.  Membuang dan mengganti cairan dengan campuran asam sulfat pekat dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1 : 9. 
  4.  Meletakkan tabung sentrifuse dalam waterbath sampai mendidih. Setelah tabung dingin, kemudian tabung disentrisfuse lagi, lalu cairan dibuang dan diganti dengan aquadest. 
  5.  Melakukan pencucian dengan aquadest sebanyak 2 kali. Setiap  kali pencucian harus disentrifuse lagi.
  6.  Membuang aquadest kemudian menggantinya dengan pewarna safranin 1 %. 
  7. Mengambil pollen dan meletakan di atas gelas benda dengan menggunakan batang gelas, kemudian diberi gliserin jeli pada atasnya. 
  8. Memberi potongan parafin pada beberapa tempat di sudut dari serbuk sari yang diletakkan. Kemudian menutupnya dengan gelas penutup, setelah itu memanaskan sebentar di atas lampu spiritus hingga parafin dan gliserin jeli mencair  serta berhati-hati agar tidak terbentuk gelembung pada preparat 

G.    PEMBAHASAN.
Dari manfaat yang bisa diambil dari pengawetan serbuk sari ini, kami melakukan praktikum yang bertujuan untuk mengetahui cara preparasi serbuk sari dan pada praktikum ini kami menggunakan metode asetolisis. Asetolisis adalah proses untuk menghilangkan selulosa dari dinding serbuk sari yakni dengan asam asetat glasial dan asam sulfat pekat (bebas air).
Pollen/serbuk sari yang kami pilh adalah dari bunga Jatropha integerrima yang kami petik di timur jalan fakultas bahasa dan seni FMIPA UNY.
Kami memilih menggunakan bunga Jatropha integerrima untuk diambil serbuk sarinya karena kami menilai bahwa serbuk sari yang dihasilkan bunga ini cukup banyak. Serbuk sari yang akan dibuat preparat harus cukup banyak karena untuk mengantisipasi kerusakan pada saat membuat preparat sehingga terdapat banyak kemungkinan memperoleh serbuk sari dalam kondisi yang bagus. Serbuk sari bunga Jatropha integerrima ini berwarna kuning, ringan, dan terdapat dalam jumlah yang banyak yang menempel pada anthera-antheranya
Klasifikasi bunga Jatropha integerrima :
Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi   : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi             : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas              : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas      : Rosidae
Ordo              : Euphorbiales
Famili             : Euphorbiaceae
Genus                        : Jatropha
Spesies           : Jatropha integerrima Jacq.
Jatropha integerrima atau peregrina adalah perdu cemara atau pohon kecil yang merupakan tumbuhan asli Kuba, dengan daun mengkilap dan kelompok-kelompok bintang berbentuk bunga merah atau merah terang terang. Tanaman ini memiliki bentuk kubah bulat dan tinggi 15 kaki walaupun dalam budidaya biasanya lebih kecil. Peregrina sering tumbuh dengan batang ramping, tapi bisa dipangkas untuk batang tunggal. Daun sangat bervariasi; mungkin seluruhnya elips atau oval, mungkin berbentuk biola, dan memiliki tiga lobus tajam. Bunga Jatropha integerrima akan berbunga sepanjang tahun.
Alat dan bahan yang praktikan gunakan dalam preparasi ini antara lain serbuk sari bunga Jatropha integerrima, asam asetat glasial, asam sulfat pekat, aquadest, gliserin jeli, potongan paraffin, safranin 1 %, gelas benda dan gelas penutup, sentrifuse dan tabung sentrifuse, waterbath (penangas air),  peralatan gelas, lampu spiritus, mikroskop cahaya. Dari masing-masing alat dan bahan tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
Pada mulanya, serbuk sari bunga Jatropha integerrima diambil dan dimasukkan kedalam botol flakon yang berisi asam asetat glasial dan fiksasi dilakukan selama kurang lebih 24 jam. Tujuan fiksasi dengan asam asetat glasial ini adalah mematikan (penghentian proses-proses hidup secara tiba-tiba dan kekal (permanen) serta mengawetkan semua isi sel dalam ukuran serta posisi semula dalam sel atau hampir sama dengan pada waktu masih hidup. Kemudian setelah 24 jam, serbuk sari yang sudah difiksasi dipindah ke dalam tabung sentrifuge. Sentrifuge dilakukan dengan tujuan memisahkan serbuk sari dengan asam asetat glasial sehingga serbuk sari nantinya dapat diambil karena terbentuk endapan. Setelah itu, asam asetat glasial dipisahkan dengan endapan serbuk sari dengan membuangnya atau mengalirkan pelan-pelan agar endapan serbuk sari tidak ikut terbuang. Tahap selanjutnya mengganti larutan dengan asam asetat glasial dan H2SO4 pekat dengan perbandingan 9:1. Kemudian memanaskan serbuk sari dalam larutan H2SO4 pekat dan asam asetat glasial tersebut dalam waterbath hingga mendidih. Pemanasan sendiri bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi yang terjadi pada serbuk sari. Dengan pemasanan dan penambahan H2SO4 tersebut berfungsi untuk untuk melisiskan selulosa pada dinding serbuk sari. Pada tahap inilah yang dimaksud dengan metode preparasi secara asetolisis dimana dengan pemberian asam asetat glasial ditambah dengan H2SO4 pekat  akan melisiskan selulosa yang terdapat pada dinding serbuk sari sehingga ketika dibuat preparat maka secara morfologi ciri-ciri alami eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas dibandingkan dengan sebelum asetolisis. Selain itu, juga berfungsi agar struktur sel serbuk sari tetap utuh seperti keadaan hidupnya ketika mendapat perlakuan selanjutnya.
Setelah mendidih, kemudian tabung berisi serbuk sari tersebut didinginkan, pendinginan berfungsi agar serbuk sari lebih terpisah dengan larutan karena setelah pemanasan ada kemungkinan serbuk sari tersebut bercampur merata dengan larutan. Setelah dingin kemudian disentrifuge kembali, hal ini bertujuan untuk mendapatkan serbuk sari yang terpisah dari larutan asam asetat glasial dan H2SO4 dengan membentuk endapan. Kemudian larutan dibuang dan dicuci menggunakan aquadest sebanyak 2 kali serta setiap pencucian disentrifuge kembali, hal ini bertujuan agar serbuk sari yang didapatkan benar-benar bersih dari larutan fiksatif agar sisa larutan fiksatif tersebut tidak berpengaruh pada hasil ketika perlakuan selanjutnya.
Tahap selanjutnya yaitu pewarnaan menggunakan safranin 1 %, yang pelarutnya menggunakan air karena lebih sesuai dengan pewarnanya sehingga dapatr menciptakan kondisi yang sama. Safranin merupakan pewarna (dye) yang memudahkan pengamatan karena menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya. Safranin berbentuk cair dan larut di dalam air, serta memiliki afinitas kimia. Tujuan dari pewarnaan adalah untuk memudahkan melihat serbuk sari dengan mikroskop, memperjelas bentuk dan ukuran serbuk sari, serta meningkatkan kontras serbuk sari dengan sekitarnya.
Kemudian setelah pewarnaan, serbuk sari diletakkan di atas gelas benda yang diatasnya diberi gliserin jeli yang padat. Preparat ditutup dengan menggunakan gliserin jeli karena sifatnya yang juga polar. Gliserin jeli berfungsi untuk media pengamatan dibawah mikroskop supaya awet sekaligus sebagai perekat. Perekat menggunakan gliserin jeli karena preparat ini digunakan untuk dalam jangka waktu yang agak lama. Selain itu, dalam penentuan medium ini, harus dipilih yang indeks refraksinya berbeda dari indeks refraksi serbuk sari (1,55 - 1,60). Gliserin memiliki indeks refraksi 1,4, dan baik digunakan untuk preparat semi permanen seperti serbuk sari bunga Jatropha integerrima ini.
Kemudian, setelah diberi gliserin jeli, pada ke empat daerah dekat sudut gelas penutup diberi potongan-potongan parafin untuk perekat dan mencegah masuknya udara ke dalam preparat sehingga tidak mengganggu pengamatan terhadap serbuk sari. Kemudian yang terakhir preparat tadi ditutup dengan gelas penutup secara perlahan-lahan dan dipanaskan di atas lampu spiritus dengan melintaskannya sehingga paraffin dan gliserin mencair dan dilakukan secara hati-hati agar tidak ada gelembung udara yang terjebak. Karena jika terdapat gelembung udara menjadikan preparat tidak representatif untuk pengamatan maupun menghalangi pengamatan.
H.    SIMPULAN.
Dari praktikum yang telah kami lakukan kami dapat menyimpulkan bahwa salah satu metode yang dapat digunakan untuk preparasi serbuk sari adalah dengan metode asetolisis yakni dengan menghilangkan selulosa pada dinding serbuksari menggunakan asam asetat glasial dan dan asam sulfat pekat.
I.       DISKUSI
1.      Selain safranin apakah pewarna lain bisa digunakan untuk mewarnai serbuk sari?
Jawab :
Pewarna lain bisa digunakan seperti Neutral red, Basic fuchsin, dan Nigrosin
2.      Apa fungsi parafin pada pembuatan preparat serbuk sari?
Jawab :
Parafin berfungsi sebagai penutup kontak preparat yang diawetkan dengan udara dan air. Fungsi parafin ini juga bisa diganti dengan kutek.
3.      Apa fungsi sentrifugasi dengan asam asetat dan sulfat?
Jawab :
Sentrifugasi dengan asam asetat dan sulfat berfungsi untuk membersihkan serbuk sari dari larutan fiksatif agar sisa larutan fiksatif tersebut tidak berpengaruh pada hasil ketika perlakuan selanjutnya


DAFTAR PUSTAKA

Bhojwani, S.S and S.P. Bhatnagar. 1978. The Embryologi of Angiosperms. Third Revised Edition. Vikas Publishing Hous, PVT, LTD.
Erdtman, G. 1952. Pollen Morphology and Plant Taxonomy Angiospermae (An Introduction to Palinology I). USA : The Chronica Botanica Co. Waltham. Mass..
Moore, P.D., J.A. Webb andM.E. Collinson. 1991. Pollen Analysis. Oxford : Blackwell Scientific Publication Oxford.
Ratnawati,dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Mikroteknik. Yogyakarta : FMIPA UNY.
Walker, D. 1999. Studying Pollen Available at :http://www.geo.arizona.edu/palvnology/pol_pix.html diakses pada tanggal 12 Januari 2011 pada pukul 19.30 WIB.
http://elisa1.ugm.ac.id/chapter_view.php?BIO3107.Paleobotani&320 diakses pada tanggal 12 Januari 2011 pada jam 19.00 WIB


Komentar

  1. coba lengkapi dengan pengamatan pertumbuhan serbuk sari

    Tabel Hasil Pengamatan serbuk sari
    No. Nama Bunga Keadaan Serbuk Sari yang Terdapat pada Cawan
    I air suling II gula 5% III gula 10% IV gula 15%
    1.
    2.
    3.
    4.
    5.
    dst


    Pertanyaan
    1. Pada larutan manakah pertumbuhan serbuk sari tampak paling banyak?
    2. Adakah hubungan antara jenis bunga dan laju pertumbuhan benang sari?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE

SISTEM EKSKRESI PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URINE


Disusun oleh :  Hafidha Asni Akmalia 08304241003
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Proses pembentukan urine beberapa tahapan, yaitu filtrasi glomeruler, reabsorspsi tubuler dan sekresi tubuler. Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus ke tubulus melewati membran filtrasi yang terdiri dari tiga lapisan yaitu sel endhotel glomerulus, membran basalis dan epitel kapsula bowman. Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara kapiler glomerulus dengan tubulus. Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat yang mengandung air, garam anorganik,glukosa, asam amino, urea, asam urat, kreatinin dan tidak mengandung sel darah merah. Reabsorpsi tubuler adalah prpindahan cairan dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Proses reabsorpsi bersifat selektif tergantung kebutuhan tubuh pada senyawa yang terdapat pada ultrafiltrat. Glukosa direa…