Langsung ke konten utama

SUMBER DAYA AIR


TUGAS ILMU LINGKUNGAN
SUMBER DAYA AIR

Hafidha Asni Akmalia


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010



SUMBER DAYA AIR


Air adalah sumberdaya alam yang dinamik (dynamic resources), yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang, sehingga memberikan implikasi yang relatif pelik dan khas dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatannya. Air merupakan sumber daya yang saat ini belum digantikan dalam memberikan dukungan dan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Air adalah sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi keberlangsungan seluruh kehidupan dan memiliki arti serta peran penting dalam berbagai sektor kehidupan.
Seiring dengan berjalannya waktu, pembangunan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan taraf hidup manusia yang tentu saja tidak lepas dari aktivitas pemanfaatan sumber daya alam. Di dalam aktivitas ini sering dilakukan perubahan-perubahan pada sumber daya alam yang nantinya akan berpengaruh pada lingkungan hidup. Makin tinggi laju pembangunan maka makin tinggi pula laju pemanfaatan sumber daya dan makin besar pula perubahan yang ada pada lingkungan hidup. Pemanfaatan sumber daya ini khususnya air akan terus dimanfaatkan sampai masa mendatang sehingga bukan tidak mungkin sumber daya air akan menyusut jika tidak ada upaya-upaya regenerasi terhadapnya. Untuk menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras. Pengelolaan ini perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antar wilayah, antar sektor dan antar generasi.
Salah satu air yang melimpah di wilayah daratan adalah sungai. Sungai merupakan sumber air yang memiliki banyak manfaat bagi makhluk hidup diantaranya :
1.      Pemanfaatan untuk penyediaan sumber air bersih (water supply).
2.      Pemanfaatan untuk irigasi.
3.      Pemanfaatan air sungai untuk pembangkit listrik.
4.      Sebagai sarana transportasi.
5.      Pemanfaatan untuk kebutuhan perikanan, industri, dan sebagainya.
Namun, keberadaan sungai sebagai salah satu sumber air tawar mulai terancam karena berbagai perlakuan baik langsung maupun tak langsung sehingga mempengaruhi kuantitas dan kualitasnya. Kegiatan pembukaan lahan di daerah hulu dan daerah tangkapan air untuk pertanian, pertambangan, maupun pengembangan kota merupakan sumber sedimen dan pencemaran perairan sungai. Adanya penebangan hutan dan perusakan pada DAS telah menimbulkan sedimentasi yang serius, selain itu pencemaran allochtonus dan autotonus juga merupakan bagian penyebab sedimentasi ini. Pembukaan lahan sebagai bagian dari kegiatan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik limbah padat maupun cair yang masuk ke perairan. Alhasil, pupuk dan pestisida yang tak sengaja masuk ke sungai akan menyebabkan penurunan kualitas air. Tak hanya itu, pencemar yang selalu masuk ke sungai dan tak terkontrol adalah limbah rumah tangga. Hal ini dikarenakan berkembangpesatnya permukiman yang tidak disertai kesadaran masyarakat untuk menjaga sumber air.
Parameter penunjuk menyusutnya kuantitas air adalah degradasi lebar sungai. Kebanyakan berkurangnya lebar sungai atau penyempitan badan air yaitu karena dikonversi menjadi lahan yang dilakukan manusia untuk kegiatan pertanian, permukiman, maupun pembangunanan infrastruktur sehingga mengurangi keberadaan badan air.
Berbagai perubahan yang terjadi pada sungai sebagai salah satu sumber air telah menyebabkan berbagai gangguan baik terhadap makhluk hidup maupun manusia sendiri. Penurunan kualitas air sungai otomatis membuat pemanfaatannya sebagai penyedia air bersih akan terancam. Dampak lebih lanjut, dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan air bersih, manusia harus mencari sumber air lain bila sungai tercemar oleh logam berat di ambang batas. Sedangkan degradasi lebar sungai tidak saja menurunkan kuantitas air sungai, namun akibat lebih lanjut tidak dapat menampung air yang masuk sesuai kapasitas terdahulu sehingga akan terjadi peluapan air keluar dari sungai. Air luapan ini keluar menuju permukaan tanah untuk mencari daerah yang lebih rendah. Inilah yang sering disebut dengan banjir di kalangan masyarakat. Sejatinya, tak ada yang salah dengan kelakuan air tersebut karena air mengalir menuju daerah yang lebih rendah. Hanya saja alur alirannya kini telah berganti dari sungai menjadi tanah permukaan dikarenakan kapasitas sungai yang tak lagi mampu menampung air yang ada. Dengan kata lain, banjir terjadi karena sungai dan saluran-saluran drainase lain tidak mampu menampung air dari hulu ataupun air hujan yang turun ke bumi. Penuhnya air permukaan pada sungai serta saluran drainase lain disebabkan karena air hujan itu tidak merembes ke bumi, melainkan mengalir menjadi air permukaan. Penyebab terjadinya banjir lain contohnya curah hujan yang tinggi, penutupan hutan dan lahan yang tidak memadai, serta perlakuan atas tanah yang salah. Agar banjir dan kekeringan dapat diantisipasi, maka perlu dibuat peta rawan bajir dan kekeringan pada tiap daerah, menyusun rencana penanggulangan banjir dan kekeringan, dan menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengadaptasinya.
Kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencegah banjir adalah:
1.         Mematuhi ketentuan tentang Koefisien Bangunan Dasar (KBD) bangunan sehingga kemampuan peresapan air ke dalam tanah meningkat
2.         Menjaga sekurang-kurangnya 70 % kawasan pegunungan tertutup dengan vegetasi tetap
3.     Melakukan penanaman, pemeliharaan, dan kegiatan konservasi tanah lainnya pada kawasan lahan yang gundul dan tanah kritis lainnya terutama pada kawasan hulu suatu DAS
4.         Menyelenggarakan pembuatan teras pada kawasan budidaya di daerah berlereng
5.         Membangun sumur dan kolam resapan
6.   Membangun dam penampung dan pengendali air pada tempat-tempat yang dimungkinkan pengaturan tata guna lahan yang harus lebih berorientasi kepada lingkungan dan meningkatkan ruang terbuka hijau
7.   Alokasi lahan harus lebih berorientasi ke fungsi sosial, lingkungan dan keberpihakan kepada rakyat kecil, sehingga perlu dilakukan pendataan tanah dan land form.
8.      Pada kawasan resapan air tidak diperkenankan mendirikan bangunan di kawasan ini karena akan menghalangi meresapnya air hujan secara besar-besaran.
9.  Pembangunan jalan raya juga dihindari agar tidak menyebabkan pemadatan tanah dan terganggunya fungsi akuifer. Vegetasi yang ada dijaga dan tidak dilakukan penebangan komersial.
10. Disepanjang sempadan sungai tidak diperkenankan digunakan untuk jalan, bangunan, dan kegiatan budidaya lainnya.
Penanggulangan tidak hanya dilakukan sebatas banjir saja melainkan pada berbagai hal yang telah merubah keadaan sungai seperti misalnya sedimentasi, erosi, dan kerusakan pada bantaran sungai. Kegiatan untuk mencegah erosi dan sedimentasi yang dapat dilakukan adalah:
1.         Tidak melakukan penggarapan tanah pada lereng terjal. Bila kelerengan lebih dari 40% maka tidak diperkenankan samasekali untuk bercocok tanam tanaman semusim.
2.         Mencegah pemanfaatan lahan secara intensif pada lahan yang berada di atas ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.
3.         Mencegah pemanfaatan lahan yang memiliki nilai erosi lebih tinggi dari erosi yang diperbolehkan.
4.         Mencegah pemanfaatan lahan secara intensif pada lahan yang berada di atas ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut
5.         Mencegah pemanfaatan lahan yang memiliki nilai erosi lebih tinggi dari erosi yang diperbolehkan.
Sedangkan perlindungan terhadap bantaran sungai dapat dilakukan sebagai berikut :
1.  Melindungi bantaran sungai secara teknis dengan pembetonan dan secara vegetasi yaitu penanaman pada bantran sungai dengan pohon supaya tahan terhadap proses pengikisan
2.         Melarang penggunaaan bantaran sungai untuk bangunan tempat tinggal
3.     Melarang kegiatan pembuangan sampah dan material sehingga menyebabkan kerusakan bantaran sungai.
Adapun peningkatan kualitas sumber air dengan cara:
1.         Penetapan baku mutu air limbah yang boleh dibuang ke sungai yang digunakan untuk sumber air baku.
2.         Tidak membuang limbah baik organik maupun organik secara terus menerus ke dalam sungai.
Dengan segala perbaikan yang dilakukan terhadap sungai maka diharapkan kebutuhan makhluk hidup baik kuantitas maupun kualitas air sungaipun terpenuhi. Mengingat air adalah sumber daya vital bagi segala bentuk kehidupan, maka penjagaan air terutama air sungai mutlak diperlukan sampai masa yang akan datang sehingga dapat menjamin keeksisan suatu ekosistem kehidupan di muka bumi ini.


DAFTAR PUSTAKA

Hadihardjaja, Joetata. 1990. Sungai Sebagai Sumber Daya Air Berkaitan Dengan Pembangunan Nasioanl Memasuki Abad XXI. Semarang : UNDIP.
Suharti, Titing. 2004. Pengelolaan Sungai, Danau, Dan Waduk Untuk Konservasi Sumber Daya Air. Bogor : IPB Press.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH

MAKALAH BIOLOGI TANAH PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Tanah






Disusun Oleh : Hafidha Asni Akmalia                08304241003 Alfiah Nurul Wahidah                 08304241019 Muhammad Radian N.A.            08304241034



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yan…