Langsung ke konten utama

PEMBUATAN PREPARAT SQUASH


LAPORAN PRAKTIKUM 
MIKROTEKNIK DAN TEKNIK LABORATORIUM

PEMBUATAN PREPARAT SQUASH




Disusun oleh :
  1. Zulqarnain Assiddiqqi (08304241001)
  2. Shaim Basyari (08304241002)
  3. Hafidha Asni Akmalia (08304241003)
  4. Febrianawati Yusup (08304241004)
  5. Dian Fita Lestari (08304241029)




JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010


PEMBUATAN PREPARAT SQUASH


A. Tujuan

  • Membuat preparat untuk mengamati pembelahan mitosis pada akar bawang Allium cepa dan untuk menghitung jumlah kromosomnya.

B. Alat dan Bahan :
Alat :

  1. Petridish
  2. Kuas
  3. Gelas benda
  4. Gelas penutup
  5. Botol vlacon
  6. Botol mineral
  7. Tusuk lidi
  8. Pipet
  9. Silet
  10. Gelas ukur
  11. Beker gelas
  12. spirtus
  13. Refrigerator
  14. Mikroskop
  15. Camera digital

Bahan :

  1. Ujung akar Allium cepa (bawang merah)
  2. HCl 1M
  3. Acetocarmin
  4. Air
  5. Alcohol absolute
  6. Asam asetat glacial

C. Metode : Squash
D. Prosedur

  1. Memilih Allium cepa (bawang merah) dengan kualitas yang baik untuk dikecambahkan.
  2. Mengecambahkan akar Allium cepa (bawang merah) pada media tumbuh yang dibuat dari gelas air mineral yang sudah tidak terpakai yang sudah diisi dengan air dengan cara menusuk bawang merah dengan lidi sehingga hanya bagian tempat tumbuh akar saja yang terbenam dalam air.
  3. Memotong akar Allium cepa (bawang merah) yang sudah tumbuh dengan panjang ± 1cm sebanyak 20.
  4. Memfiksasi potongan akar dalam larutan yang berisi alkohol absolute dan asam asetat glacial dengan perbandingan 3:1 kemudian memasukkannya ke dalam refrigerator.
  5. Mencuci potongan akar Allium cepa (bawang merah) dengan air sebanyak 3 kali.
  6. Mengambil 1N HCl secukupnya kemudian menuangkannya ke dalam botol vlacon.
  7. Memasukkan potongan Allium cepa (bawang merah) yang telah dicuci ke dalam botol tersebut sampai terendam kemudian memanaskannya ke penangas air selama ± 8 menit dengan suhu 50-60 C
  8. Mencuci potongan  akar Allium cepa (bawang merah) dengan air sebanyak 3 kali.
  9. Mewarnai potongan akar Allium cepa (bawang merah) dengan acetocarmin dan ditunggu selama 3 menit.
  10. Mencuci potongan akar Allium cepa (bawang merah) yang telah diwarnai dengan air sebanyak 3 kali.
  11. Memotong ujung akar yang berwarna merah tua kemudian diletakkan pada gelas benda.
  12. Menekan sediaan hingga diperoleh lapisan yang tipis.
  13. Mengamatinya di bawah mikroskop.

E. Pembahasan


  • Pada praktikum yang berjudul “ Pembuatan Preparat Squash” ini bertujuan untuk membuat preparat untuk mengamati pembelahan mitosis pada akar bawang Allium cepa dan untuk menghitung jumlah kromosomnya. 
  • Pada percobaan ini menggunakan tanaman bawang merah karena bawang merupakan salah satu tanaman yang sangat mudah diamati tahapan mitosisnya karena bisa langsung diamati dengan bantuan mikroskop dan tahapan pembelahan selnya dapat terlihat jelas. Bagian yang akan diamati adalah ujung akar karena pada ujung akar merupakan bagian meristem yang masih berkembang dengan baik sehingga masih mudah untuk diamati.
  • Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengecambahkan akar Allium cepa (bawang merah). Penumbuhan akar dilakukan di dalam gelas plastik yang berisi air dengan cara menusuk bagian tengah bawang merah secara horizontal sedemikian rupa sehingga hanya bagian akarnya saja yang menyentuh air dan ditunggu selama kurang lebih 1 minggu dengan asumsi bahwa akar bawang sudah muncul.
  • Setelah selama kurang lebih 1 minggu, akar Allium cepa (bawang merah) telah muncul. Kamipun mengambil akar Allium cepa  (bawang merah) pada pukul 10.00. berdasarkan literatur, kisaran pukul 08.00-11.00 merupakan waktu yang baik untuk mengamati proses pembelahan mitosis pada ujung akar Allium cepa (bawang merah)  dikarenakan sel-sel meristem ujung akar paling aktif membelah. Selanjutnya memotong akar Allium cepa (bawang merah) dengan panjang ± 1cm sebanyak 20. Hal ini dimaksudkan sebagai cadangan agar jika preparat yang dibuat kurang bagus maka masih ada persediaan untuk membuat preparat baru.
  • Potongan-potongan akar  Allium cepa (bawang merah) kemudian difiksasi dengan larutan alcohol absolute dan asam asetat glacial dengan perbandingan 3: 1. Fiksasi ini dimaksudkan agar kondisi fisiologis potongan akar Allium cepa (bawang merah) stabil untuk jangka waktu tertentu sama dengan kondisi saat dipotong. Kemudian dimasukkan ke dalam pendingin agar perubahan suhu tidak terjadi secara fluktuatif sehingga relatif  stabil. Setelah difiksasi selama 2 x 24 jam, selanjutnya potongan akar Allium cepa (bawang merah) dicuci menggunakan air sebanyak 3 kali pencucian. Hal ini dimaksudkan supaya potongan akar Allium cepa (bawang merah) bersih dari bahan fiksatif. Pencucian menggunakan air dikarenakan bahan fiksatif yaitu alcohol absolute dan asam asetat glacial larut dalam air.Potongan akar dimasukkan ke dalam 1 N HCl yang ada dalam botol vlacon sampai terendam. Kemudian ditutup dengan kapas dan dipanaskan dalam penangas air selama ± 8 menit dengan suhu 50-60˚ C. Fungsi HCl yaitu untuk melunakkan  sel agar mudah disquash saat pembuatan preparat nantinya. HCl akan melarutkan pectin maupun selulose yang ada pada dinding sel sehingga sel menjadi lunak. Sedangkan fungsi pemanasan yaitu untuk mempercepat reaksi pelunakan sel dimana suhu yang digunakan selama pemanasan yakni berkisar antara 50-60 C yang merupakan suhu optimal terjadinya reaksi. Jika lebih dari 60 C maka akan terjadi kerusakan komponen sel sedangkan bila di bawah 50 C maka reaksi berjalan lambat.Selanjutnya kami mencuci potongan akar sesudah dipanaskan sebanyak 3 kali pencucian. Hal ini mempunyai fungsi sama dengan pencucian sebelumnya yakni untuk membersihkan HCl 1N. Selain itu, pencucian dimaksudkan agar dalam langkah selanjutnya dalam pewarnaan lebih sempurna.Langkah berikutnya yaitu mewarnai potongan akar yang telah dicuci dengan acetocarmin. Pewarnaan dimaksudkan agar sel-sel yang akan diamati terlihat karena jika tidak diwarnai maka akan transparan sehingga sulit diamati di bawah mikroskop. Perendaman menggunakan asetocarmin selama 3 menit dimaksudkan agar proses pewarnaan berjalan sempurna. Penggunaan  bahan pewarna acetocarmin supaya dapat memberi warna pada benang-benang kromatin. Hal ini berhubungan dengan tujuan pembuatan preparat yaitu untuk mengamati pembelahan mitosis yang terjadi pada ujung akar Allium cepa.Denganadanya pewarnaan menggunakan acetocarmin, bagian ujung akar yang aktif membelah akan berwarna lebih tua dibandingkan sel-sel yang telah terdiferensiasi. Kemudian kami mencuci potongan akar yang telah diwarnai dengan acetocarmin dengan menggunakan air sebanyak 3 kali pencucian. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kepekatan bahan pewarna sehingga pada bagian ujung akar yang akan diamati dapat terlihat, yakni tidak terlalu pekat karena warna merah dari acetocarmin dan tidak terlalu transparan.Selanjutnya, ujung akar yang berwarna merah tua dipotong karena pada bagian inilah terdapat sel-sel yang aktif membelah. Karena aktivitas pembelahannya maka banyak benang-benang kromatin yang terwarnai oleh acetocarmin.Bagian ujung akar yang berwarna hitam ini diletakkan pada gelas benda kemudian ditutup dengan gelas penutup. Langkah terakhir adalah menekan gelas penutup dengan kuku agar diperoleh lapisan tipis yang mudah untuk diamati di bawah mikroskop. 
  • Dari hasil pengamatan di bawah mikroskop, kami dapat menemukan 4 fase dalam pembelahan mitosis yaitu prophase, metaphase, anaphase, dan telophase. Berikut penjelasan dari setiap fase.
  1. Prophase :Memasuki tahap profase, kromatin mengalami kondensasi membentukm kromosom. Kromosom cepat memendek dan menjadi lebih tebal. Tiap kromosom terdiri atas 2 kromatid yang dihubungkan oleh sebuah sentromer. Selama profase, nucleolus dan membran inti menghilang. Mendekati akhir profase terbentuklah benang spindel. Pada akhir profase, kromosom-kromosom mulai menempatkan diri di bidang ekuator dari sel.
  2. Metaphase :Kedua kromatid (kromatid bersaudara) dalam satu kromosom masih dihubungkan oleh satu sentromer dan terletak di bidang ekuator sel.
  3. Anaphase :Kedua kromatid bersaudara memisahkan diri dan masing-masing bergerak sebagai kromosom anakan menuju ke kutub dari spindel yang berlawanan letaknya. Proses ini didahului oleh membelahnya sentromer menjadi dua bagian. Fase ini menyelesaikan pembagian jumlah kromosom secara kuantitatif sama ke dalam sel anakan.
  4. Telophase :Datangnya kromosom anakan di kutub spindle merupakan tanda dimulainya telofase. Terbentuknya membran inti baru, anak inti baru, dan menghilangnya spindel terjadi selama fase ini. Benang-benang spindel mengumpul membentuk dinding pemisah sehingga terbentuklah dua sel anakan.

F. Diskusi

  1. Semua fase pembelahan mitosis pada preparat yang kami buat dapat teramati yakni mulai dari profase, metafase, anafase, dan telofase.
  2. Fase yang paling banyak dijumpai pada pengamatan yaitu telofase.

G. Simpulan

  • Metode yang digunakan untuk membuat preparat ujung akar Allium cepa (bawang merah) yakni metode squash. Metode ini merupakan metode penekanan pada preparat ujung akar sehingga diperoleh lapisan tipis preparat yang memudahkan untuk diamati di bawah mikroskop.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEKANISME KONTRAKSI DAN RELAKSASI OTOT

Filamen aktin biasanya berhubungan dengan myosin yang mana bertanggung jawab untuk berbagai pergerakan sel. Myosin adalah prototipe dari penggerak molekuler - sebuah protein yang mengubah energi kimia dalam bentuk ATP menjadi energi gerak yang menghasilkan kekuatan dan pergerakan. Kebanyakan pergerakan umumnya adalah kontraksi otot yang memberi model untuk memahami interaksi aktin dan myosin dan aktivitas penggerak dari molekul myosin. Bagaimanapun juga, interaksi aktin dan myosin tidak hanya bertanggung jawab pada kontraksi otot tetapi juga untuk berbagai pergerakan sel non otot termasuk pembelahan sel. Sehingga interaksi diataranya memerankan peran yang penting di biologi sel. Lebih jauh, sitoskeleton aktin bertanggung jawab untuk pergerakan lambat sel menyeberangi permukaan yang terlihat digerakkan secara langsung oleh polimerisasi aktin dengan baik oleh intreaksi aktin - myosin. 1.Pendahuluan Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas, kontraksi dan spesialisasi in…

PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI TUMBUHAN PERKECAMBAHAN SERBUK SARI
Disusun Oleh : Kelompok 4 Pendidikan Biologi Subsidi 1.Hafidha Asni Akmalia            (08304241003) 2.Tuttus Sufi Kusuma LPS.       (08304241022) 3.Riza Sativani Hayati   (08304241029) 4.Nur Hidayah                           (08304241030) 5.Titis Nindiasari A.                   (08304241036)


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 A.TUJUAN Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B.DASAR TEORI Serbuk sari (pollen grain) adalah sebuah sel hidup yang berisi sel kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh dinding sel. Dinding serbuk sari terdiri atas dua lapisan yaitu di bagian luar yang tebal dan keras disebut lapisan eksin dan sebelah dalam tipis seperti selaput disebut  intin. Pada permukaan eksin terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang dapat digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk …

PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH

MAKALAH BIOLOGI TANAH PERAN ORGANISME DALAM PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Tanah






Disusun Oleh : Hafidha Asni Akmalia                08304241003 Alfiah Nurul Wahidah                 08304241019 Muhammad Radian N.A.            08304241034



JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yan…